Memecah Blog (WordPress)

Blog Gw di http://blog.gandiwibowo.web.id sudah ngalor-ngidul gak jelas, isinya dah kayak sampah-sampah otak Gw. Mulai dari ngebahas film, buku, bikin puisi, cerita jalan-jalan, catetan ngutak-atik slackware, sampe ngebahas masalah di masyarakat semuanya ada disitu. Memang sih, blog Gw itu dibuat tanpa tujuan, tanpa satu ciri, tema, atau bahasan yang pasti. Bukan seperti blognya mas willy yang ngebahas slackware, mas hendra yang ngebahas linux, atau zia dengan ciri sintingnya. Karena sudah kepenuhan category dan tag, maka Gw berencana memecah blog itu menjadi beberapa blog, yang **Maunya sih** di gabung ke satu site induk (Sebetulnya, ini alasan utama Gw bikin domain sendiri). Dulu maunya sih Gw bikin dulu site induknya, semacam planet blog gituh, tapi sayangnya dengan keterbatasan ilmu Gw hal itu gak terwujud-wujud. Akhirnya, sekarang Gw pecah dulu aja blognya, Gw bagi ke subdomain-subdomain. Nah… besok2 baru deh bikin site induknya lagi :D .

Sebagai permulaan, Gw bikin 3 sub domain lagi (selain blog.gandiwibowo.web.id) yaitu seni.gandiwibowo.web.id, review.gandiwibowo.web.id dan foss.gandiwibowo.web.id. Subdomain seni akan berisi segala karya seni Gw berupa puisi, prosa, cerpen dan novel yang sudah atau akan Gw buat (Yah… walau cerpen dan novel itu kayaknya gak bakal ada). Sedangkan subdomain review akan berisi segala review Gw tentang karya orang lain, baik berupa buku, film, blog, lagu, puisi, cerpen, tempat wisata, atau apapun. Subdomain yang terakhir, FOSS, Gw sediain sebagai kontribusi Gw terhadap dunia open source. FOSS kepanjangan dari Free/Open Source Software yang artinya Software Gratis atau Berkode sumber terbuka. Gila, banyak amat ya blog yang Gw punya? Hahahaha… sebetulnya gak juga, Gw cuma memisahkan artikel-artikel dari kategori/tag ke sebuah blog. Malah ada kemungkinan bakal Gw tambah lagi :D

Ketiga subdomain yang Gw buat ini, sebetulnya perluasan dari kategori/tag yang ada di blog Gw. Beberapa artikel yang ada diblog Gw akan di salin ke setiap subdomain baru itu. Sayangnya, ternyata wordpress tidak menyediakan alat bantu praktis untuk meng-export semua artikel di suatu blog berdasar kategori atau tag. WordPress hanya dapat meng-export artikel berdasarkan author dari artikel itu. Beberapa cara memang bisa digunakan untuk meng-export berdasar kategori/tag, seperti melalu RSS kategori/tag itu atau dengan merubah author setiap artikel yang mau diexport. Lalu ada satu lagi cara, yaitu memecah file xml hasil exportnya. sayangnya cara terakhir ini belum ada tools/program yang bisa digunakan dengan mudah. Sekalian mengasah otak, Gw pun terpaksa membuat aplikasi pemecah blog sendiri yang Gw kasih nama GwPExport. Bagi yang memerlukannya, bisa lihat di artikel tentang GwPExport di foss.gandiwibowo.web.id

Posted in Uncategorized | 4 Comments

Hati-hati Cinta Buta!!

Demi cintaku padamu, langit kan ku runtuhkan dan bumi ku junjung, hingga mereka bersatu dan tak lagi diperlukan horizon maya.

Sebuah rayuan gombal yang mungkin bisa melambungkan hati sang pujaan, memberi kekuatan untuk melawan segala yang menentang menyatunya dua hati yang telah saling menyayangi. Terus berjuang untuk sebuah kata yang teramat agung, yang takkan pernah dapat terdefinisi walau semua kata dalam kamus-kamus besar segala bahasa, disusun dan dirangkai seindah mungkin. CINTA… apa lagi kalo bukan kata “CINTA”? Kata temen-temen Gw, ini kata yang harus diperjuangkan bila sudah kita temui, apapun penghalangnya harus dilawan, jangan menyerah. Walaupun orang tua melarang, masyarakat tidak setuju, tapi pasti Cinta dapat meluluhkan hati mereka dan menemukan jalannya, walau mungkin butuh waktu yang tidak sebentar. Oh… indah dunia bila memang cinta adalah segala-galanya, bahwa cinta harus selalu dipertahankan apapun penghalangnya.

Tapi tahu gak, pada saat tertentu kita harus rela merenggang dan melupakan CINTA, karena…. disebabkan oleh cinta, seorang wanita bisa menjadi pembunuh anak kandungnya sendiri. Betulan loh, walau si wanita ini sadar dan **pasti** gak tega membunuh anaknya sendiri, tapi kenyataannya dia bisa menjadi seorang pembunuh. Sorry..sorry nih, Gw bukan memandang berdasar Gender, tapi pada kenyataannya memang begitu, walaupun sang lelaki juga punya andil sih. Wanita akan menjadi seorang pembunuh bila demi CINTA ia nekad menikahi seorang lelaki yang ber-rhesus berbeda. udah tahu rhesus blom? itu loh… tanda plus atau minus di golongan darah lu. Rhesus positif, berarti ada factor “rhesus” di keping darah merah kita. Nah kalo negatif berarti gak ada factor Rhesus di keping darah kita. Factor ini dinamakan Rhesus karena pertama kali teridentifikasi di keping darah monyet rhesus **Rhesus itu nama jenis monyet Asia**.

Pasangan dengan rhesus yang berbeda, sangat berbahaya, karena bila perkawinan itu menghasilkan anak (Gw sebut perkawinan, bukan pernikahan, soalnya yg bisa menghasilkan anak kan kawin bukan nikah LOL), ada kemungkinan anaknya memiliki rhesus yang berbeda dengan sang ibu. Walaupun orang-orang bilang bahwa ibu dan anak punya ikatan batin yang sangat erat dan kuat, tapi kenyataannya janin didalam tubuh ibu akan tetap dianggap benda asing, akan diperangi oleh tubuh sang ibu bila dianggap mengancam tubuh ibu. Rhesus dalam darah sang anak akan dianggap mengancam tubuh si Ibu, sehingga secara naluriah, alamiah, sunatullah, ibu akan mengeluarkan anti rhesus yang bisa menjadi racun bagi sang anak. Biasanya pada kehamilan pertama masih ada harapan si bayi hidup, tapi jangan harap untuk kelahiran selanjutnya. Inilah yang menyebabkan seberapapun keras mulut sang Ibu berkata sayang pada anaknya, tetap saja pada kenyataannya, sistem pertahanan tubuhnya akan membunuh sang anak tercinta.

Siang ini (sewaktu Gw nulis artikel ini… beberapa minggu yang lalu), Gw mendapat rekap hasil medical check Up dari kantor. Gak ada yang menarik perhatian Gw dari semua kata “cukup” dan “negatif”, ataupun angka-angka yang semua berada dikisaran normal, selain sebuah kartu yang telah di laminating, dengan 4 kotak berisi tetes darah Gw. Bukan.. bukan pula kartu dan darah itu yang menarik perhatian Gw, tetapi sebuah Huruf dan sebuah simbol “O+”. Yups… akhirnya Gw tahu Golongan darah Gw, setelah seperempat abad lebih darah ini mengalir, mengangkut oksigen, protein, vitamin, karbohidrat, atau apapun kebutuhan tiap sel dalam tubuh ini. Sebegitu senangnya Gw mengetahui golongan darah Gw **Norak Mode: On** sampai-sampai pembicaraan dan pekerjaan dikantor sempat teralihkan untuk masalah darah ini. Nah… ini makanya Gw sampe tahu kalo seorang ibu bisa membunuh anaknya sendiri gara2 rhesus yang berbeda. menurut informasi dari rekan kerja Gw (Gak tau bener apa gak), Masyarakat Asia, Indonesia utamanya, adalah manusia berrhesus positif. Sedang masyarakat barat adalah manusia ber-rhesus negatif. Yah… gagal deh punya Istri Bule :(

So.. mulai saat ini, kalo kenalan sama cewek/cowok, jangan tanya nama… tanya rhesus dulu. Biar gak terlanjur ROFL..

Oh iya… kalo mo info lebih jelas masalah rhesus ini, coba baca di blognya riskawati yang ngebahas Rhesus Negatif VS Rhesus Positif

Posted in Opini Gw - Politik dan Masyarakat | Tagged , , , | 7 Comments

Ratu Boko, Shaolinnya Indonesia

Apes dasar nasib.. itu yang pertama terbesit dalam hati Gw sewaktu ketinggalan shuttle terakhir ke Ratu Boko (1jan10). Tiket yang 30 ribu terpaksa Gw pecah dan minta kembalian 10rb (Tiket prambanan 20rb, ratu boko 15rb, kalo digabung jadi 30rb+shuttle), karena Gw gak yakin bakal ke Ratu boko, lah wong penginapan aja blom punya. Ketika kaki ini melangkah melintasi tembok pembatas komplek percandian prambanan, Samar tampak sebuah hotel bernama Sari (No telp-nya 0274-496595… Gw catet biar inget :D ), tidak secantik namanya, hotel itu tampak tua, fasilitas minim (Jangan harap ada AC, walau di kamar termahal), pelayanannya juga gak seramah IBIS, SULTAN atau sekedar DELTA, SALA, atau PUSPA di pusat Yogya. Walau begitu, Hotel Sari ini memberikan pilihan dan fasilitas yang memuaskan bagi wisatawan terlantar seperti saya ini, di memberikan sebuah tempat tidur, kamar mandi didalam kamar (Walau WC-nya diluar), kipas angin, power line AKA. listrik PLN, dan tambahan TV untu 65 ribu di liburan panjang ini. sebetulnya, hotel sari memiliki beragam kelas kamar, mulai dari 45rb, sampai 75rb per malam, tetapi saya mengambil kamar yang sesuai kebutuhan saja :D .

Merasa keadaan nanti malam sudah tertangani, karena atap tak mungkin hanya langit dan lampu bukanlah bintang (Kan dah dapet Hotel :p), Gw-pun mencoba mendaki bukit ratu boko. Teringat, waktu turun dari transjogja di terminal prambanan, ada banyak Ojek yang menawarkan jasa antar ke Ratu Boko, dengn biaya 10rb, maka Gw berjalan balik keterminal dan segera menyewa sebuah Ojek Motor. Objek Istana Ratu Boko sebetulnya bisa dicapai dari sisi depan yang lebih dekat, tapi tukang ojeknya ngajakin Gw muter lewat belakang, lewat jalan yang berkelok-kelok kayak jalan menuju curug Cilember. Kayaknya situkang ojek lagi kelebihan Bensin ROFL… bukan itu sih alasananya, sepertnya jalur depan itu terlalu curam, jadinya dia pilih yang lebih landai.

Situs Ratu boko menyambut Gw dengan gapura indah yang masih berdiri kokoh menyapa pendatang. Sebagian besar situs (web/blog), buku, atau literatur lain yang ngebahas ratu boko, pasti nampilin gapura ini sebagai foto utama, padahal mah ini cuma gapura yang Gw jamin sewaktu dulu… gapura ini gak lebih istimewa dari apa yang ada didalamnya. Sebuah Guratan kata “Panabwara” di gapura pertama yang ditulis oleh Rangkai Panabwara-lah yang membuatnya sedikit “berarti”. Tulisan itu menandakan peristiwa pengambil alihan istana ratu boko ke tangan Rangkai Panabwara yang masih keturunan rangkai panangkaran. Kalo aja gak ada tulisan itu, mungkin gapura ini cuma sebagai gapura biasa yang sudah berumur tua, tanpa menorehkan cerita dalam sejarahnya. Sebetulnya Situs ini bernama Abhayagiri Vihara yang artinya “wihara tanpa bahaya yang ada di bukit ” karena A=tidak, bhaya=bahaya, giri=bukit tinggi, vihara=wihara. Hal ini sesuai dengan prasasti yang dikeluarkan oleh rangkai panangkaran (yang juga ngebangun candi borobudur dan sewu).

Setelah melewati Gapura, lalu menengok dan berbelok kekiri, kita akan disajikan sebuah candi yang diberi nama candi pembakaran. Penamaan candi pembakaran disebabkan ditemukannya abu sisa pembakaran di dasar lubang (Ditengah candi ini ada lubang) yang diyakini sebagai abu jenazah sisa kremasi. Namun sesuai penelitian lebih lanjut (Tertulis di plang di dekat candi ini) bahwa abu itu hanya abu kayu, bukan abu jenazah. Jadi mulai ada keraguan bahwa candi ini digunakan sebagai candi pembakaran seperti yang di duga banyak orang. Sayangnya informasi penelitian ini gak Gw temuin di berbagai sumber informasi maya, entah karena penelitian ini masih baru, atau memang gak ada yang baca plang-nya. Naek terus kekiri candi pembakaran, ada bukit kecil yang lebih tinggi **yang kalo kata brosur, namanya gardu pandang**, kayanya ini gak termasuk situs ratu boko, hanya saja pemandangan dari atas lebih indah, bisa liat kota yoya, gerbang ratu boko, candi pembakaran, dan yang jelas gak terganggu orang2 yang sibuk foto-foto dan teriak-teriak. Gw ngabisin waktu istirahat (Sehabis muterin ratu boko) disini sampai sunset.

Situ di Ratu boko berlanjut kearah kanan dari gapura, disana bisa ditemuin alun-alun dan batur paseban. Batur paseban yang berupa lantai batu, tanpa tiang dan atap (Ada kemungkinan tiang dan atapnya terbuat dari kayu dan telah hancur sebelum ditemukan kembali.). Penamaan paseban karena para arkeolog beranggapan bahwa disini dulunya berdiri bangunan penerima tamu, seperti kraton jaman sekarang. Keraton jaman sekarang selalu ada bangunan penerima tamu didepan yang diberinaman Pasebaan. kalo terus kekanan, ada anak tangga menurun yang akan terus membimbing kita ke sebuah bangunan yang dianggap sebagai pendopo, karena dikelilingi oleh tembok tinggi seakan-akan sebagai pelindung.

Dalam situs ratu boko ini ada yang namanya pemandian, tapi kayaknya sudah hancur, soalnya dah gak berbentuk layaknya pemandian lagi. Kolam-kolam yang ada disana ada yang kecil, ada yang besar. yang besar bisa sedalam 5 meter-an, sedang yang kecil gak rapih bentuknya **Pendapat Gw loh**. Gw sedikit ragu kalo ini adalah sebuah situs pemandian, tapi kalo kata para arkeolog ini sebuah pemandian, dan sudah diteliti dengan seksama selama bertahun-tahun, ya Gw percaya aja, cuma tetep aja Gw gak bisa bayangin pemandian aslinya kayak apa. Gak berapa jauh dari pemandian, ada 2 lantai batu yang dianggap sebagai keputren. dari keputren ini, bisa dilihat candi barong.

Nah… di Ratu boko ini juga ada yang namanya tempat semedi, disebutnya sih Goa, ada dua Goa disini, Goa lanang dan Goa Wadon. Penamaan Goa wadon karena diatas pintu masuknya ada coak.. yang diyakini menyerupai alat kelamin wanita, yang sering disebut yoni perlambang dewi-dewi, wanita, dan kesuburan. sedang pada goa lanang tidak terdapat coak-an ini. Gw sih sebetulnya gak setuju kalo ini disebut Goa, lah wong cuma dinding batu yang di coak sedalam 2-3 meter horizontal. Coakan seperti ini mengingatkan Gw sama situs sunyaragi di cirebon yang pernah Gw samperin dibulan april tahun lalu.

Selain situs arkeologi Keraton Ratu Boko, disini juga di sediain pelataran buat pertemuan atau acara lainnya termasuk pernikahan yang bisa menampung sampai 500 hadirin dan hadirat yang hadir Gw garot **Halah mulai ngawur**. Dan ada juga Area buat kemping, tapi berhubung waktu dan rasa khawatir gak bisa pulang **Gak ada kendaraan turun sob**, Gw pun enggan ngecek kebenaran famlet dan brosur itu. Mending segera turun tanya2 pak satpam atau orang di pintu Gerbang, siapa tahu ada yang mau turun ke terminal dan bersedia Gw tumangi :D . Dan sungguh beruntung karena ada seorang satpam yang bersedia menjadi oek dadakan, ngaterin Gw ke terminal prambanan **Asyik… Gw pulang**.

Weits… acara tahun baruan Gw gak berenti sampe sini doang, Besoknya Gw masih jalan2 ke Borobudur, dan sempet ngeliat samudrareksa, tiruan kapal bercadik yang terukir di relief dinding borobudur, dan sudah berlayar dari Indonesia sampai Afrika. di hari ketiga, Gw malah sempet ngunjungin keraton dan tamansari, bagaimana ceritanya? gak tau deh Gw masih inget apa nggak… nanti Gw tulis sebisanya deh. ANW bagi yang mau ke Borobudur, Gw udah tulis arti relief lalitawistara di lorong satu bagian atas Candi Borobudur. Cara bacanya dari arah timur, mutar searah jarum jam, sampai kembali ketimur (Ini disebut arah pradaksina).  Di bawah ini Gw attach beberapa gambar yang Gw ambil pas diratu boko, Kalo kurang jelas, diklik aja gambarnya. Kalo kurang banyak, bisa liat di album jjs di photobucket Gw: gandiwibowo/jjs_01_jan_10

Gapura Ratu Boko

Gapura Ratu Boko

Candi Pembakaran

Pendopo Ratu Boko

Salah satu kolam (besar) pemandian

Salah satu kolam (besar) pemandian

Keputren

Lokasi Goa Wadon dan Goa Lanang

Relief Yoni (Alat kelamin wanita) diatas Goa Wadon (Emangnya kaya gini ya?)

Posted in Uncategorized | Tagged , , | 10 Comments

Kolam Lumpurku

Ketika ku bermain-main dipinggir kolam lumpur, seberapa berhati-hatinya langkah yang ku ambil, jatuh bukanlah hal yang muskil. Pematang itu terlalu sempit, licin dan gembur. Takkan pernah sanggup menahan berat tubuhku yang kian hari kian bertambah, seiring bertambahnya dosa yang ku lakukan. Setinggi apapun sepatu boot yang ku kenakan, jelas telapak kaki kan tersentuh liat lumpur, karena boot pun berlubang. Tetapi sebotol air darimu selalu memberiku cambuk, untuk segera bangkit dari jatuh, membuka sesaat boot dan jaketku, lalu menyapu noktah itu sebelum mengering. Kembali mengenakan segala perlindungan, dan mulai melangkah lagi tanpa rasa ragu, karena kutahu kau kan selalu memberiku botol penuh air. Terimakasih kawan atas dukunganmu.

Posted in Pribadi | Tagged , , | 3 Comments

Menentukan Arah Kiblat dengan Google Earth

Pernah denger, kalo beberapa masjid di Indonesia mengalami kesalahan arah kiblat? Kata depag sih itu dikarenakan pengukuran arah kiblat yang cuma menggunakan kompas, dimana pengukuran dilakukan setelah tiang-tiang masjid berdiri. Tiang-tiang masjid yang menggunakan besi-besi sebagai tulangnya ini mempengaruhi arah jarum kompas yang terbuat dari magnet. Wajar dong kalo magnet mengarah ke besi, walau pengaruhnya tidak besar, mungkin hanya beberapa derajat tetapi dengan jarak Jakarta-Ka’bah yang hampir mencapai 8000 Km, akan membuat pergeseran beberapa derajat itu menjadi penyimpangan beratus-ratus kilometer. Karena Allah telah menyuruh kita memalingkan muka kearah ka’bah sewaktu shalat, maka sebisa mungkin kita mengarah kesana. Beberapa alat bantu yang bisa kita gunakan untuk menentukan arah kiblat adalah kompas, GPS, Teodolit, dan Google earth. Alat bantu yang terakhir ini yang paling gampang, mudah dan murah hanya perlu komputer dan koneksi internet.

Gw asumsiin kalo google earth sudah terinstalasi di PC, dan koneksi internet sudah tersambug, lalu bagaimana caranya menentukan arah kiblat? Pertama-tama berikan penanda letak ka’bah di Google Earth, caranya pilih menu Add->Placemark atau bisa langsung menggunakan shortcut Ctr+Shift+P, lalu kolom latitude di masukan koordinat 21°25’21.05″N, sedangkan kolom longitude dimasukan koordinate 39°49’34.31″E, begitu pula longitude dan latitude di tab view. Koordinat 21º 25? 21.05” Lintang Utara dan 39º 49’ 34.31” Bujur Timur adalah koordinate Ka’bah. Sekarang arahkan google Earth ke posisi yang akan kita cari arah kiblatnya. Sebagai contoh, Gw coba cek masjid Baitur Rahman, Duren Sawit, Jakarta Timur dengan koordinate 6°13’33.66″ Lintang Selatan dan 106°54’56.25″ Bujur Timur. Bisa juga dibuat placemark (penanda tempat) agar memudahkan, cara membuat place marknya sama dengan membuat placemark ka’bah, hanya saja koordinatnya diganti 6°13’33.66″S untuk latitude dan 106°54’56.25″E untuk longitudenya.

Menambah penanda tempat

Menambah penanda tempat

Menentukan koordinat penanda tempat

Menentukan koordinat penanda tempat

Untuk menentukan arah, kita dapat menggunakan ruler pada Google Earth. Caranya pilih menu Tools->Ruler, nantinya akan keluar jendela (window) info ruler. Klik pada peta tepat di penanda tempat yang akan kita cari arah kiblatnya, lalu pilih Penanda Ka’bah di pane Places agar tampilan pinda ke Ka’bah. Lalu klik tepat dipenanda ka’bah untuk menjadikannya titik akhir ruler. Sekarang kita bisa kembali ketempat semula (dengan klik penanda masjid di pane places) dan melihat arah kiblat yang seharusnya. Tampak bahwa Masjid Baitur Rahman di Duren sawit telah memiliki arah kiblat yang tepat. Kita bisa ngelakuin hal yang sama ditempat kita shalat dimanapun, bahkan didalam kantor.

Menambah garis (Ruler)

Menambah garis (Ruler)

Set Awal Ruler

Set Awal Ruler

Pindah ke Kabah

Pindah ke Ka'bah

Menentukan Akhir Ruler (kabah)

Menentukan Akhir Ruler (ka'bah)

Arah Kiblat Masjid Baitur Rahman, Duren Sawit

Arah Kiblat Masjid Baitur Rahman, Duren Sawit

Bagaimana shalat-shalat yang pernah kita lakuin dengan arah yang tidak ke kiblat, apakah itu batal? Maaf ya Gw lagi gak bahas teologi, tapi setahu Gw, selama kita tidak mengetahui aturan, kesalahan tidak akan dicatat sebagai dosa. Tetapi sungguh celaka bagi mereka yang tidak segera mencari tahu aturan yang berlaku. Terkadang, kita hanya menduga-duga arah kiblat sesuai dengan letak matahari terbenam atau kebiasaan orang-orang sebelum kita yang sudah shalat disitu. Terdengar seperti jawaban orang jahiliyah sewaktu diajak menyembah Allah ya… “kami beribadah sebagaimana bapak-bapak kami beribadah, bapak dari bapak kami beribadah, bapak dari bapak dari bapak kami dan orang-orang terdahulu jauh sebelum kami.” wedew Sok toy ya Gw.. ROFL

Posted in Opini Gw - Politik dan Masyarakat | Tagged , | 15 Comments

Kompleks Taman Candi Prambanan

Candi prambanan di beri nama “prambanan” karena terletak didaerah prambanan, Jadi belum tentu dulunya dinamakan candi prambanan juga. Disini terdapat 4 Candi/komplek percandian, yang paling besar adalah komplek percandian prambanan atau Roro Jongrang. Di komplek percandian ini ada banyak candi, mulai dari candi perwara yang **mungkin** cuma sebagai penghias, peng-indah,  dan pelengkap candi utama, candi pengapit dan sudut, candi dewa dan candi kendaraan dewa. Sungguh beruntung komplek percandian ini, karena mereka menjadi candi pertama yang Gw liat langsung dengan telanjang.. eh salah, maksudnya dengan mata telanjang **Gw gak make kacamata loh bukan gak pake baju :p**.

Prambanan, dilindungi dari bahaya perang

Seperti yang udah Gw sebutin sebelumnya di artikel yang lalu, Dikomplek percandian ini ada 3 candi dewa dan 3 candi kendaraan dewa, kalo candi yang lainnya kayaknya sih cuma dijadiin penghias aja. 3 Candi Dewa itu adalah candi Siwa (Yang paling besar), candi Brahma (disebelah kiri candi siwa), dan candi Wisnu (Disebelah kanan candi siwa), serta tepat didepan masing2 dewa, berdiri candi yang isinya hewan kendaraan mereka. Candi Nandi atau sapi didepan candi Siwa (Kendaraan dewa Siwa), candi Angsa di depan candi Brahma (Kendaraan dewa Brahma), dan candi Garuda di depan candi Wisnu (Kendaraan dewa Wisnu). Nah di daerah utama (“Halaman atas” kalo disebut buku panduan) itu juga terdapat 2 candi kelir, tanpa tangga yang katanya sebagai penolak bala, berada di sisi utara dan selatan. Lalu ditiap sudut halaman atas, terdapat candi sudut (ini juga belum tentu nama aslinya).

Denah Prambanan

Denah Prambanan

Denah Prambanan - Halaman Atas

Denah Prambanan - Halaman Atas

Sewaktu Gw menjenguk komplek percandian prambanan, hanya candi nandi dan candi garuda yang bisa di masuki. Sedangkan 3 candi dewa dan candi angsa tidak/belum bisa dimasuki karena masih dalam tahap renovasi. Di bagian bawah (“Halaman Bawah” sesuai buku panduan), terdapat banyak puing-puing candi yang belum di renovasi, di halaman bawah ini seharusnya terdapat 224 candi dengan ukuran dan bentuk yang sama, tersusun simetris, 56 candi di tiap sudut yang tersusun 4 lapis, candi-candi ini disebut candi perwara.

Sumpah Gw baru pertama kali masuk candi, dulu sih pernah kebali, tapi gak pernah masuk ke pura. Nah disini Gw liat, sentuh dan rasakan sebuah tempat ibadah agama Hindu. Sedih bukan kepalang ketika Gw lihat kelakuan bangsa Indonesia memperlakukan sebuah karya budaya ,terlebih ini merupakan tempat ibadah, hanya sebagai tempat wisata, background foto, tempat mojok dan bersenda gurau. Mengapa sebuah tempat ibadah hanya dipandang sebagi tempat wisata? Gak ada kesakralannya, apakah karena ini bukan tempat ibadah mereka? Naif bila memang karena itu.

Demi Foto, aturan diabaikan

Demi Foto, aturan diabaikan

Selain Candi Roro Jonngrang, di perkomplekan candi prambananjuga terdapat candi lumbung. Informasi mengenai candi lumbung ini sangat minim **Mungkin karena Gw gak bawa pemandu :p**. Candi ini tidak memiliki arca dalam tiap bangunannya, mungkin ini yang menyebabkannya disebut sebagai candi lumbung. Sewaktu Gw samperin ini candi, beberapa candi sudah terenovasi dan tampak nyata bentuknya, sedang beberapa candi lainnya masih dalam tahap renocasi, dan kayaknya gak bakal mengalami kemajuan yang lebih berarti, soalnya gak tampak pekerjaan sedang direnovasi. Di Candi ini di temukan sebuah prasasti **Gw tahu dari plang informasi di candi sewu** yang berisi nama-nama dewa agama hindu dan dewa agama budha, yang menggambarkan sinkritisme agama yang telah terjadi sejak jama nenek Moyang kita.

Candi Lumbung

Candi Lumbung

Melangkah beberapa meter dari candi lumbung, bisa kita lihat candi bubrah… Bener2 bubrah (rusak). Candinya Hancur, sudah tak berbentuk cuma sisa kaki candi setinggi 2 meter. Candi ini termasuk candi Budha, karena ditemuin beberapa arca budha **Gak utuh** di seputaran candi ini. Tetapi arca-arca itu sudah gak ada lagi di lokasi ini **Gw gak tau udah ditaroh mana, mungkin di bawa kemuseum**.

Candi Bubrah

Candi Bubrah

Candi terakhir yang ada di komplek percandian prambanan, adalah candi Sewu. Candi sewu ini merupakan komplek candi Budha, yang aslinya ada 257 candi **termasuk candi induk dan perwaranya**. Posisi candi sewu dan candi roro jongrang yang berdekatan dan berbeda Agama, menandakan keharmonisan beragama di masyarakat Indonesia yang udah ada sejak jaman dulu. Kebetulan Gw kelamaan nulis artikel ini, jadinya banyak yang gw lupa tentang candi ini… ditambah waktu Gw kesini Gw gak terlalu banyak mendapat informasi. Sudah banyak blog/situs yang nulis tentang candi ini, silahkan searching aja sendiri… situs yang menurut Gw bagus wikipedia versi Indonesia dan CandiDIY, kalo blog yang bahas prambanan bisa liat di djogjakarta.blogdetik.com atau di wikipedia juga.

Candi Sewu

Candi Sewu

Di komplek percandian prambanan juga ada museum, yang menceritakan sejarah perenovasian dan sebagainya tentang candi-candi di seputaran komplek percandian prambanan, ada juga pemutaran film  berdurasi kurang lebih 20 menit dan seharga Rp. 2000 yang sayangnya gak bisa Gw dapetin copy-annya **Katanya yang jaga: takut gak ada yang mau nonton lagi kalo bisa ngopi… DOH**.

Waktu masuk komplek percandian prambanan ini, Gw beli tiket terusan ke Ratu Boko, jadi Gw musti buru-buru ke shelter buat ikut mobil ke ratu boko. Sewaktu Gw liat jam di HP telah menunjuk pukul 15.30, Gw pun bergegas. Dari kejauhan Gw masih bisa liat ada mobil yang parkir disana, Viuh… gak ketinggalan berarti :D . Oups.. merasa posisi aman, Gw jadi pengin ke information centernya, siapa tahu ada brosur atau buku bagus yang bisa Gw beli/minta :p sayangnya keputusan itu adalah kesalahan. Gw gak dapet brosur berbahasa Indonesia gratis **Habis katanya, jadi dapet yg English aja**, juga gak ada buku yang bisa di beli, dan ditambah…. mobilnya udah jalan… mobil terakhir ke ratu boko udah jalan :( ….. Dan gw ditinggalain :( (. terpaksa gw ngojek keratu boko….

Cerita Ratu boko, dilanjutin besok2 aja kalo sempet…. :D

Posted in Jalan-jalan | Tagged , , , | 8 Comments

Gw pernah nulis ini : "ANTARA SINETRON INDONESIA DAN FILM LUAR"

Gara2 baca postingan mba Ria tentang Halal/haram Software bajakan, Gw jadi inget tulisan lama Gw **Tahun 2007** di blog friendster Gw, tentang software open source. Dan Gak sengaja, Gw juga lihat ada tulisan Gw tentang Sinetron Indonesia, rasanya Gw jadi pengin repost tulisan itu sebagai kritik buat Sinetron Indonesia. Berikut tulisannya:

Malu memang terbesit di hati tiap masyarakat Indonesia, bila melihat karya sineis Indonesia kalah bersaing dengan karya – karya dari luar negri ( terutama dari negri paman sam ), di dalam negri sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin ini yang sering terbesit di hati, bukannya kita tidak cinta negri sendiri, tetapi apa daya, memang film – film kita terutama sinetronnya masih kalah jauh bila dibandingkan karya -karya luar.

Saya sebagai seorang penikmat (penonton) karya – kraya mereka dapat dengan mudah melihat kelemahan – kelemahan karya anak bangsa. Banyak film yang dibuat tidak berdasarkan fakta, dan terkadang sangat di luar logika (seakan – akan kita sedang bermimpi/berkhayal, bukan sedang menonton sebuah film). Beberapa contoh yang sangat mencolok adalah:

1.Monolog yang tak perlu
Memang didalam sebuah film, terkadang di perlukan sebuah monolog untuk membantu penonton memahami alur cerita, tetapi apakah perlu penonton mengetahui semua isi hati para pemain? Apakah perlu penonton di beritahukan kembali melalui monolog tentang kejadian yang telah terjadi dengan jelas? Ini yang terjadi dengan film – film (terutama sinetron) Indonesia.

Penonton yang sejatinya merupakan orang pertama atau orang ketiga dalam sebuah film, tidak mungkin mengetahui isi hati dari setiap pemain. Hanya Sutradara dan penulis naskah lah yang seharusnya mengetahui isi hati dari tiap pemain. Tetapi dalam film -film Indonesia, umumnya, penonton dapat mengetahui dengan jelas maksud hati dari tiap pemain, sehingga sangat mudah menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Penonton di perlakukan sebagai tuhan dalam (hampir) setiap sinetron indonesia. Mengapa demikian? Karena penonton mengetahui semua maksud hati pemain. Loh kenapa bisa begitu? Jelas saja bisa, karena setiap pemain pasti mengucapkan maksudnya secara lisan-monolog.

Selain masalah isi hati, monolog pada sinetron Indonesia juga sangat aneh, beberapa hari yang lalu saya menonton sinetron yang pemainnya selalu menyebutkan kejadian yang sebenarnya saya sudah tahu. Sebagai contoh, seorang pemain mengatkan: ‘Loh kemana kuda itu akan pergi? Apakah akan ke air terjun itu? Hai dia menembus air terjun itu.. kemana dia akan pergi ya? Aku harus mengikutinya sebelum air terjun itu menutup kembali’ padahal kejadian kuda itu jelas – jelas ditampilkan, dan saya tahu kuda itu masuk ke air terjun. Itu tidak lah seberapa, yang lebih mngejutkan, ketika pemain itu masuk ke air terjun, dan air terjunnya menghilang, kemudian berubah menjadi hutan yang lain, pemain itupun berkata: ‘aku dapat menembus air terjun ini? Loh air terjunnya menghilang, ini dimana? Mengapa hutannya berubah? Aku tak mengenal hutan ini’, saya dan teman saya langsung tertawa melihat kejadian itu. 5 menit yang terbuang percuma untuk monolog yang tidak perlu.

2.Penggunaan alat – alat penunjang yang tidak di persiapkan secara baik
Kadang kala, dalam sebuah film di perlukan alat -alat yang bila dalam ke adanya nyata memang seharunya ada, sebagai contoh: dalam rumah sakit, seorang pasien yang sekarat dan sulit bernapas memerlukan alat bantu pernapasan, serta alat monitor kehidupan. Tetapi dalam kehidupan nyata, alat – alat itu dinyalakan, sedangkan di sinetron yang pernah saya tonton, alat-alat itu tidak ada yang hidup. Alat bantu pernapasan (tabung oksigen) tidak menunjukan adanya udara yang keluar, jarum penunjuk takanannya menunjukan angka nol, dan alat monitor kehidupannya tidak hidup ( dalam keadaan mati).

Apakah mungkin si sutradara tidak menyadarinya? Ya mungkin saja, bila memang hal – hal kecil itu tidak dipersiapkan dengan baik. Memang penonton dapat mengerti maksud adaanya alat – alat itu, tapi bukan kah sebuah film harusnya mendekati kenyataan? Ini hanya contoh dari sekian banyak kejadian dalam sinetron Indonesia yang tidak memperhitungkan dan mempersiapkan alat -alat pembantu yang di gunakan.

3.kejadian – kejadian yang tidak masuk diakal
Mengapa saya katakan tidak masuk diakal? Karena ya memang bila dalam kehidupan nyata, kejadian – kejadian yang akan saya contohkan ini tidak mungkin dapat terjadi, kecuali kita sedang bermimpi atau berkhayal. Apa saja kejadian yang tidak masuk diakal itu? Contoh yang pertama: kemarin saya menonton sinetron, ketika seorang wanita lewat lorong / gang rumahnya yang kecil (kurang lebih lebarnya < 2m) tidak ada seorang pun di jalan itu. Tapi tidak kurang dari satu menit monolog ketika ia salah membawakan kolak untuk adiknya yang sudah tidak ada di rumah, tiba – tiba di belakangnya ada anak kecil yang sedang duduk lemas kelaparan dan meminta di beri makan. Aneh kan, darimana datangnya anak itu? Bila memang duduk aja dia lemas begitu, tak mungkin kan dia baru datang, dan sinetron itu bukan sinetron takhyul loh. Jadi si anak kecil itu bukan setan yang bisa tiba – tiba muncul.

Satu contoh lainnya, ketika seorang manusia secara tidak sengaja dikubur hidup – hidup, dari sore hingga magrib. Tahu – tahu ia bisa keluar sendiri dengan menggali tanahnya kembali dan dalam keadaan hidup. Pesulap pun butu trik penipuan untuk melakukannya, tapi bagai mana bisaa hansip biasa yang bego dapat melakukan hal itu? Sungguh tak masuk diakal.

Itu baru 3 dari kelemahan sinetron Indonesia, sebetulnya masih banyak lagi, tatapi saya belum bisa mengkategorikannya. Bukannya tidak suka sinetron Indonesia, dan bukan pula menjatuhkan sinetron – sinetron Indonesia, tapi hanya sebagai koreksi buat para keluarga besaar perfilman Indonesia. Tolong maafkan saya bila ada yang tersinggung :) Saya tidak dapat menyebutkan judul – judul sinetron diatas, karena selain takut dikatakan diskriminatif, saya lupa judul beberapa film nya :)

Tulisan ini dibuat di gandiwibowo.blog.friendster.com pada tanggal 21 september 2007, pukul  01:00 WIB (jam satu malam), kalo gak salah pas bulan Ramadhan.

Posted in Film, Opini Gw - Politik dan Masyarakat | Tagged , | 10 Comments

Kemana Data Pribadi Kita dibawa oleh Take Him Out?

Malam ini **Eh pagi deng, kan udah lewat dari jam 12 malem** Gw harus menerima kenyataan bahwa mata ini tak juga bisa terpejam **Padahal dah nyoba tidur**. Sebuah Otak penuh pemikiran, dan kerjaan yang Null, jelas bikin Gw meracau.. iseng ngubek2 FB orang, gonta-ganti status, liat2 plurk, browsing sana-sini, chatting…. Pembicaraan dengan seorang teman lama, yang entah kenapa kok larinya jadi ke masalah wanita, lalu tiba-tiba dia ngasih link “kalo bingung juga mendingan click THOINDONESIA.com”. Tadinya Gw bingung, apa itu thoindonesia **Gila kuper amat ya Gw ROFL** Gw curiga itu situs yang “nggak-nggak” jadi gak Gw buka, sampe dia bilang forum chit-chatnya lucu-lucu. Tertarik dengan kata “lucu” Gw pun membuka situs itu, dan ternyata, ya ampyun bodohnya Gw, THOIndonesiacom itu Situs resmi Take Hime Out Indonesia, sebuah acara di stasiun TV swasta. Baru kali itu Gw buka situsnya, lalu teringat kata-kata seorang teman yang bilang kalo THO itu pesertanya di gaji alias diupah perepisodenya, seperti yang pernah Gw tulis bagian akhir tulisan Gw tentang Penipuan atas nama PT. MICO. Penasaran…. Gw pun mencoba membuktikan kata-kata temen Gw itu. Langsung menuju link registration dan membaca peraturan serta perjanjiannya.

“Saya menyatakan bahwa informasi yang saya kemukakan dalam kuesioner ini adalah benar dan akurat. Apabila terdapat kesalahan, penipuan atau informasi yang menyesatkan yang saya cantumkan, saya bersedia untuk dieliminasi. Kuesioner dan berkas-berkas lain yang saya lampirkan, termasuk, foto, film dan kaset video, menjadi properti dari FremantleMedia Indonesia, dan tidak perlu dikembalikan dan dapat dipergunakan di berbagai bentuk media, termasuk internasional, untuk kelangsungan program. Saya mengerti bahwa dengan dikumpulkannya kuesioner ini, Produser tidak memiliki tanggung jawab untuk menerima dan memilih saya berpartisipasi dalam program Take Him Out dalam jaminan apapun, sehubungan dengan tujuan untuk memilih kontestan-kontestan yang potensial. “

Coba baca bagian yang Gw tebal-in…. “Kuesioner dan berkas-berkas lain yang saya lampirkan, termasuk, foto, film dan kaset video, menjadi properti dari FremantleMedia Indonesia, dan tidak perlu dikembalikan dan dapat dipergunakan di berbagai bentuk media, termasuk internasional, untuk kelangsungan program.” Gile…. semua data yang kita masukin jadi hak milik fremantle media, mau tahu data apa aja yang musti lu masukin dan serahkan ke fremantle media? Beberapa diantaranya: Nama, alamat, No Telepon (Rumah, kantor, dan mobile/HP), email, tanggal lahir, tinggi badan, berat badan, nama perusahaan, jabatan, deskripsi pekerjaan, riwayat pendidikan… wow.. bayangin… bayangin… bayangin kalo semua data itu disebarkan atau di jual oleh frematlemedia ke pihak lain, tentu saja kita gak bisa menuntut pihak fremantle karena sesuai perjanjian, kita membolehkannya. Tetapi siapa sih yang rajin, iseng, malem-malem membaca perjanjian yang secara default kita setujui?

Eh… eh.. eh.. kok Gw nyebut segala merek dagang ditulisan Gw ini ya? Wah bisa kena UU ITE nih Gw…

Hahahahaha biarkan saja, biar rame sekalian… biar tahu semua orang yang ikut THO, bahwa data mereka sangat terbuka untuk diperjual belikan… Untung aja pendaftar gak perlu memasukan Nomor Kartu Kredit dan masa berlakunya.

Posted in Opini Gw - Politik dan Masyarakat | Tagged , , , | 13 Comments

Jembatan Penyeberangan Menuju Akhirat

Tertidur entah setelah ataupun sebelum pukul 12 malam, lalu hidup kembali disubuh hari, dan berangkat dikisaran angka enam. Ber-Metro mini ria menembus kemacetan lalu disambung kereta listrik sampai stasiun pasar minggu, berjalan kaki beberapa ratus meter sampai menemukan sebuah angkutan kota yang akan mengantar tubuh ini ke Kantor. Wha… rutinitas yang sudah lama gak Gw lakuin, mungkin sudah lebih dari tiga tahun. Ditahun-tahun awal Gw memasuki dunia kerja, rutinitas ini selalu terulang dan terulang dalam kehidupan sehari-hari Gw, namun semenjak ada kendaraan pribadi milik orang tua, lalu disusul tersewanya kosan di samping kantor, membuat Gw jarang melakukan rutinitas ini.

Gw selalu teringat, untuk membeli sebuah koran T*MPO distasiun sebelum menaiki kereta listrik arah bogor. Beberapa lembar kertas berisi huruf-huruf bermakna serta gambar-gambar penjelasan, yang selalu memberikan cerita nyata untuk menemani langkah kaki mungil ini menuju dunia keras pengabdian negara **Lebay lagi ah…** membuat hati lupa akan waktu kerja yang sudah mepet, kereta yang terkadang terlambat, mentari yang sesekali membakar kulit, atau hiruk-pikuk kota Jakarta yang tidak berirama. Huruf-huruf itu Gw lahap dengan nikmat selama penantian kereta, didalam kereta, di pelataran stasiun kereta menembus penjaja kaki lima, menaiki jembatan penyebrangan, menyusup diantara trantib yang sibuk mengusir para pedagang, hinga Gw menaiki angkutan kota dan sampai ke kantor tercinta.

Namun Rutinitas itu kini telah sedikit berubah, kini Gw gak bisa lagi berjalan sembari menuntaskan cerita di koran T*MPO, karena sekarang perjalanan itu harus Gw lalui dengan sebuah rasa was-was, khawatir, deg-deg-an, bahkan pasrah bila ternyata Gw harus terjatuh dari ketinggian 3-7 meter. Sebuah jembatan penyebrangan yang selalu Gw lewati di depan stasiun Pasar Minggu (Wah danger nih… bisa ketahuan pola berangkat Gw, intel musuh siap mengintai **Lebay Mode: On), yang dulu ditangganya selalu terisi pengimis kecil yang masih tertidur di balik pelukan dingin sang ibu, serta beberapa penjaja yang mulai menyusun dagangannya di pelataran atas jembatan penyebrangan, kini tak lagi tampak seperti itu. Anak-anak tangga yang selalu menjadi penopang kehidupan para pengemis cilik, kini tak mampu lagi berdiri kokoh. Pelataran nyaman yang selalu menjanjikan untung berlebih bagi penjaja kaki lima, kini hanya menyisakan setumpuk sampah dan suasana suram kehidupan kota. Lihat saja sedikit gambaran yang sempat Gw abadikan ini, gambaran nyata sebuah jembatan penyebrangan didepan stasiun pasar minggu.

Anak Tangga yang Hampir Putus (1) Anak Tangga yang Hampir Putus (2) Anak Tangga yang Hampir Putus (3)

Anak Tangga Hampir Putus (1) Anak Tangga yang Putus (2) Kotornya Pelataran Jembatan Penyeberangan

Sedih hati ini melihat sebuah fasilitas kota yang hancur seperti ini. Dalam hati… Gw sempat bertanya, kemanakah pemerintah? dimana uang-uang pajak rakyat yang selalu ditarik dengan alasan pembangunan? Lalu, Gw juga sempat berpikir, berapa banyak jembatan penyeberangan yang dapat diperbaiki dengan uang yang digunakan untuk perbaikan tembok gedung MPR/DPR atau Istana merdeka? Berapa banyak penjaja kaki lima, para pelaku ekonomi kelas bawah itu dapat meneruskan usahanya bila uang yang digunakan untuk bailout bank century digunakan untuk memperbaiki semua jembatan penyebrangan? bahkan mungkin masih sisa banyak untuk pembangunan pasar tradisional dan panti-panti penampung pengemis cilik. AH… Hidup ini memang aneh.

Tetapi Gw juga sering berpikir, buat apa jembatan penyebrangan itu diperbaiki? toh masyarakat tidak pernah menggunakan sesuai fungsinya. Seinget Gw, semenjak dulu disaat jembatan itu masih berdiri pongah, sangat sedikit pejalan kaki yang memanfaatkannya untuk menyebrang. Seperti yang sudah Gw sebutkan sebelumnya, lebih banyak dipakai untuk tidur para pengemis, atau menjajakan dagangan kaki lima. Para penyebrang lebih memilih menantang kereta besi yang melaju diatas 40KM/Jam itu. Sekarang, rusaknya jembatan ini telah menjadikan pembenaran bagi mereka menyeberang dijalan, lalu kemana saja mereka kemarin-kemarin disaat sang jembatan penyebrangan masih gagah? Mungkin seandainya dulu jembatan ini selalu dimanfaatkan sesuai fungsinya, pemerintah melalui lembaga terkait akan selalu memperhatikan kenyamanannya.

Entahlah… Gw bukan pengamat ekonomi, bukan anggota ormas peduli lingkungan, Gw bukan pihak yang berwenang memperaiki jembatan ini, Gw gak punya keahlian menganalisa sebab musabab, Gw gak punya solusi yang layak untuk masalah ini. Gw cuma seorang pejalan kaki di kota metropolitan ini, yang mungkin dengan sombongnya menyalahkan pemerintah, yang dengan angkuhnya menyudutkan pengemis, penjaja kaki lima, dan pejalan kaki yang asal menyeberang. Tetapi yang Gw tahu, jembatan itu dibuat untuk menyebrang, dan akan selalu Gw fungsikan seperti itu. Mungkin nanti disaat tubuh ini terhempas ketanah, dihantar sang jembatan untuk bersama-sama menunju akhir hidup, disaat itu mungkin kamera dan pena wartawan memberikan kisah dikoran tentang nasib jembatan penyeberangan. Dan mungkin, para pejalan kaki yang membacanya akan bangga menggunakan jembatan penyeberangan, bahkan para wakil rakyat, petugas pemerintah dan bahkan presiden akan memberikan perhatian pada kelangsungan hidup Jembatan penyeberangan.

Ah… sungguh ekstrim pengandaian yang Gw buat… semoga saja Jembatan Penyeberangan itu tak akan sempat menghantarkan penggunanya ke akhirat….

Posted in Opini Gw - Politik dan Masyarakat | Tagged , , | 10 Comments

Going To Prambanan

Setelah semalaman lelah mencari hotel, akhirnya pagi hari ditahun masehi yang baru ini, Gw bisa menyalurkan hasrat jalan-jalan Gw. Tujuan pertama adalah komplek percandian Prambanan di ujung utara kota Yogya. Berangkat dari hotel di jalan veteran, Gw naek bus kota bernomor 7, lalu nyambung transjogja yang ke arah prambanan di janti. Transjogja tidak sama dengan transjakarta, tidak ada Bus Way atau jalur khusus untuk bus transjogja, bus yang digunakan tidak sebesar bus transjakarta, transjogja cuma menggunakan bus ¾. Halte transjogja juga tidak dibuat sebesar halte-halte transjakarta sehingga walau penumpang yang menunggu bus tidak sebanyak penumpang transjakarta tetap saja haltenya padat, bahkan Gw harus menunggu di luar halte sekitar 10 menit, karena halte penuh. Tranjogja arah prambanan berhenti sampai terminal prambanan, cuma beberapa ratus meter dari pintu masuk komplek percandian prambanan. Ada banyak becak, ojek dan delman yang siap mengantar badan lelah ini memasuki area komplek percandian, tetapi seperti biasanya, Gw memilih untuk berjalan kaki. Ternyata tidak jauh cuma 500 meteran sudah sampai pintu masuk, dan 100-200 meteran lagi untuk mencapai loket tiket.

Halte Transjogja - Janti

Halte Transjogja - Janti

Tiket masuk prambanan ada dua jenis, yaitu masuk ke prambanan saja dengan biaya Rp. 20.000 atau sepaket dengan tiket ke Ratu Boko, sebesar Rp.30.000. Tiket terusan ke Ratu boko, sudah termasuk tiket masuk ke Ratu Boko **Aslinya Rp.15.000** serta paket shuttle ke ratu boko **pulang pergi loh** tapi perlu dicatat, kendaraan ke Ratu Boko hanya tersedia sampai pukul 15:00 saja. Kemaren Gw kecele, Gw gak dapet shuttle, karena Gw kesorean **jam 16:00 baru mau ke ratu boko. Saran bijak Gw, mending beli tiket terusan ke ratu boko, lalu mengunjungi ratu boko dulu, baru ke prambanan, so gak bakal takut ketinggalan bus :D .

Candi Prambanan - Jarak Jauh

Candi Prambanan - Jarak Jauh

Komplek percandian prambanan terdiri dari 4 candi, yang pertama dan yang terbesar adalah percandian prambanan, lalu ada candi lumbung, candi bubrah, serta candi sewu. Keempatnya terletak berdekatan, cuma 100-500 meter jarak antar candinya. Percandian Prambanan adalah percandian hindu terbesar di Indonesia, sama seperti Borobudur yang merupakan candi Budha terbesar di Indonesai. Di dalamnya ada beberapa candi, candi utamanya adalah candi dewa shiva (Siwa), dewa wisnu, dan dewa Brahma, didepan ketiga candi itu, terdapat 3 candi yang didalamnya berisi patung hewan2 kendaraan para dewa. Ada patung nandi atau sapi yang merupakan kendaraan Dewa Siwa, lalu ada juga Garuda kendaraan dewa Wisnu, dan Angsa kendaraan dewa Brahma. Candi-candi di prambanan dinamai sesuai dengan patung yang ada didalam candinya. Jadi candi denga isi sapi disebut candi nandi, candi berisi garuda disebut candi garuda, candi dengan isi Angsa disebut candi Angsa. Di sekeliling candi-candi itu, di luar tembok pembatas, terdapat ratusan candi perwara yang belum seluruhnya ter-renovasi. Candi perwara adalah candi-candi kecil pendamping, penghias, pelengkap candi utama.

Sebetulnya Gw tertarik untuk menyewa pemandu, tapi harganya yang Rp. 50.000 sempat bikin Gw bergeming. Sebetulnya tarif pemandu itu bukan perorang, tapi perpemandu, maksudnya berapa banyakpun orang yang dipandu, pemandu tetap dibayar Rp. 50.000 so bisa lebih murah bayarnya kalo kita rombongan. Gw bisa aja nunggu beberapa orang yang juga butuh dipandu, tapi Gw gak sabaran, so langsung aja Gw jelajahi segala sudut candi prambanan ini **Walau akhirnya Gw menyesali ini**. Menjelajahi candi seorang diri, tanpa pemandu memiliki beberapa kekurangan, tapi juga kelebihan. Kita gak terikat oleh waktu, dan alur yang selalu dibuat oleh sipemandu, kita bisa berkeliling kesegala sudut, mencermati hal-hal kecil dan **sedikit** berkhayal tentang masa lampau ;) ).

Gw di Sewu

Gw di Sewu

Satu hal kenyataan yang gak diungkapkan dari segala sumber diinternet tentang percandian, terutama prambanan dan beberapa candi yang akan Gw kunjungi selanjutnya. Yaitu, sebagian besar batu candinya sudah diganti oleh batu baru, dan sudah banyak relief yang hilang, yang Gw maksud sebagian besar itu ya sebagian besar, lebih banyak dari perkiraan Gw, hingga membuat sebuah relief candi menjadi samar, sesamar sejarah mereka. Terlebih ketika Gw melihat gambar-gambar candi itu sewaktu ditemukan beberapa puluh, bahkan ratus tahun lalu, jelas tak mungkin mendirikan kembali candi dari sisa-sisa batu yang ditemukan, salut buat para arkelog yang telah memecahkan puzle 4 Dimensi ini, sehingga Gw bisa berjalan menyaksikan **Perkiraan** bentuk candi-candi ini.

cerita lanjutannya nanti ah….

PS. 200 Foto iseng pas jalan bisa di lihat di photobucket Gw

Posted in Jalan-jalan | Tagged , , | 16 Comments