Apes dasar nasib.. itu yang pertama terbesit dalam hati Gw sewaktu ketinggalan shuttle terakhir ke Ratu Boko (1jan10). Tiket yang 30 ribu terpaksa Gw pecah dan minta kembalian 10rb (Tiket prambanan 20rb, ratu boko 15rb, kalo digabung jadi 30rb+shuttle), karena Gw gak yakin bakal ke Ratu boko, lah wong penginapan aja blom punya. Ketika kaki ini melangkah melintasi tembok pembatas komplek percandian prambanan, Samar tampak sebuah hotel bernama Sari (No telp-nya 0274-496595… Gw catet biar inget
), tidak secantik namanya, hotel itu tampak tua, fasilitas minim (Jangan harap ada AC, walau di kamar termahal), pelayanannya juga gak seramah IBIS, SULTAN atau sekedar DELTA, SALA, atau PUSPA di pusat Yogya. Walau begitu, Hotel Sari ini memberikan pilihan dan fasilitas yang memuaskan bagi wisatawan terlantar seperti saya ini, di memberikan sebuah tempat tidur, kamar mandi didalam kamar (Walau WC-nya diluar), kipas angin, power line AKA. listrik PLN, dan tambahan TV untu 65 ribu di liburan panjang ini. sebetulnya, hotel sari memiliki beragam kelas kamar, mulai dari 45rb, sampai 75rb per malam, tetapi saya mengambil kamar yang sesuai kebutuhan saja
.
Merasa keadaan nanti malam sudah tertangani, karena atap tak mungkin hanya langit dan lampu bukanlah bintang (Kan dah dapet Hotel :p), Gw-pun mencoba mendaki bukit ratu boko. Teringat, waktu turun dari transjogja di terminal prambanan, ada banyak Ojek yang menawarkan jasa antar ke Ratu Boko, dengn biaya 10rb, maka Gw berjalan balik keterminal dan segera menyewa sebuah Ojek Motor. Objek Istana Ratu Boko sebetulnya bisa dicapai dari sisi depan yang lebih dekat, tapi tukang ojeknya ngajakin Gw muter lewat belakang, lewat jalan yang berkelok-kelok kayak jalan menuju curug Cilember. Kayaknya situkang ojek lagi kelebihan Bensin ROFL… bukan itu sih alasananya, sepertnya jalur depan itu terlalu curam, jadinya dia pilih yang lebih landai.
Situs Ratu boko menyambut Gw dengan gapura indah yang masih berdiri kokoh menyapa pendatang. Sebagian besar situs (web/blog), buku, atau literatur lain yang ngebahas ratu boko, pasti nampilin gapura ini sebagai foto utama, padahal mah ini cuma gapura yang Gw jamin sewaktu dulu… gapura ini gak lebih istimewa dari apa yang ada didalamnya. Sebuah Guratan kata “Panabwara” di gapura pertama yang ditulis oleh Rangkai Panabwara-lah yang membuatnya sedikit “berarti”. Tulisan itu menandakan peristiwa pengambil alihan istana ratu boko ke tangan Rangkai Panabwara yang masih keturunan rangkai panangkaran. Kalo aja gak ada tulisan itu, mungkin gapura ini cuma sebagai gapura biasa yang sudah berumur tua, tanpa menorehkan cerita dalam sejarahnya. Sebetulnya Situs ini bernama Abhayagiri Vihara yang artinya “wihara tanpa bahaya yang ada di bukit ” karena A=tidak, bhaya=bahaya, giri=bukit tinggi, vihara=wihara. Hal ini sesuai dengan prasasti yang dikeluarkan oleh rangkai panangkaran (yang juga ngebangun candi borobudur dan sewu).
Setelah melewati Gapura, lalu menengok dan berbelok kekiri, kita akan disajikan sebuah candi yang diberi nama candi pembakaran. Penamaan candi pembakaran disebabkan ditemukannya abu sisa pembakaran di dasar lubang (Ditengah candi ini ada lubang) yang diyakini sebagai abu jenazah sisa kremasi. Namun sesuai penelitian lebih lanjut (Tertulis di plang di dekat candi ini) bahwa abu itu hanya abu kayu, bukan abu jenazah. Jadi mulai ada keraguan bahwa candi ini digunakan sebagai candi pembakaran seperti yang di duga banyak orang. Sayangnya informasi penelitian ini gak Gw temuin di berbagai sumber informasi maya, entah karena penelitian ini masih baru, atau memang gak ada yang baca plang-nya. Naek terus kekiri candi pembakaran, ada bukit kecil yang lebih tinggi **yang kalo kata brosur, namanya gardu pandang**, kayanya ini gak termasuk situs ratu boko, hanya saja pemandangan dari atas lebih indah, bisa liat kota yoya, gerbang ratu boko, candi pembakaran, dan yang jelas gak terganggu orang2 yang sibuk foto-foto dan teriak-teriak. Gw ngabisin waktu istirahat (Sehabis muterin ratu boko) disini sampai sunset.
Situ di Ratu boko berlanjut kearah kanan dari gapura, disana bisa ditemuin alun-alun dan batur paseban. Batur paseban yang berupa lantai batu, tanpa tiang dan atap (Ada kemungkinan tiang dan atapnya terbuat dari kayu dan telah hancur sebelum ditemukan kembali.). Penamaan paseban karena para arkeolog beranggapan bahwa disini dulunya berdiri bangunan penerima tamu, seperti kraton jaman sekarang. Keraton jaman sekarang selalu ada bangunan penerima tamu didepan yang diberinaman Pasebaan. kalo terus kekanan, ada anak tangga menurun yang akan terus membimbing kita ke sebuah bangunan yang dianggap sebagai pendopo, karena dikelilingi oleh tembok tinggi seakan-akan sebagai pelindung.
Dalam situs ratu boko ini ada yang namanya pemandian, tapi kayaknya sudah hancur, soalnya dah gak berbentuk layaknya pemandian lagi. Kolam-kolam yang ada disana ada yang kecil, ada yang besar. yang besar bisa sedalam 5 meter-an, sedang yang kecil gak rapih bentuknya **Pendapat Gw loh**. Gw sedikit ragu kalo ini adalah sebuah situs pemandian, tapi kalo kata para arkeolog ini sebuah pemandian, dan sudah diteliti dengan seksama selama bertahun-tahun, ya Gw percaya aja, cuma tetep aja Gw gak bisa bayangin pemandian aslinya kayak apa. Gak berapa jauh dari pemandian, ada 2 lantai batu yang dianggap sebagai keputren. dari keputren ini, bisa dilihat candi barong.
Nah… di Ratu boko ini juga ada yang namanya tempat semedi, disebutnya sih Goa, ada dua Goa disini, Goa lanang dan Goa Wadon. Penamaan Goa wadon karena diatas pintu masuknya ada coak.. yang diyakini menyerupai alat kelamin wanita, yang sering disebut yoni perlambang dewi-dewi, wanita, dan kesuburan. sedang pada goa lanang tidak terdapat coak-an ini. Gw sih sebetulnya gak setuju kalo ini disebut Goa, lah wong cuma dinding batu yang di coak sedalam 2-3 meter horizontal. Coakan seperti ini mengingatkan Gw sama situs sunyaragi di cirebon yang pernah Gw samperin dibulan april tahun lalu.
Selain situs arkeologi Keraton Ratu Boko, disini juga di sediain pelataran buat pertemuan atau acara lainnya termasuk pernikahan yang bisa menampung sampai 500 hadirin dan hadirat yang hadir Gw garot **Halah mulai ngawur**. Dan ada juga Area buat kemping, tapi berhubung waktu dan rasa khawatir gak bisa pulang **Gak ada kendaraan turun sob**, Gw pun enggan ngecek kebenaran famlet dan brosur itu. Mending segera turun tanya2 pak satpam atau orang di pintu Gerbang, siapa tahu ada yang mau turun ke terminal dan bersedia Gw tumangi
. Dan sungguh beruntung karena ada seorang satpam yang bersedia menjadi oek dadakan, ngaterin Gw ke terminal prambanan **Asyik… Gw pulang**.
Weits… acara tahun baruan Gw gak berenti sampe sini doang, Besoknya Gw masih jalan2 ke Borobudur, dan sempet ngeliat samudrareksa, tiruan kapal bercadik yang terukir di relief dinding borobudur, dan sudah berlayar dari Indonesia sampai Afrika. di hari ketiga, Gw malah sempet ngunjungin keraton dan tamansari, bagaimana ceritanya? gak tau deh Gw masih inget apa nggak… nanti Gw tulis sebisanya deh. ANW bagi yang mau ke Borobudur, Gw udah tulis arti relief lalitawistara di lorong satu bagian atas Candi Borobudur. Cara bacanya dari arah timur, mutar searah jarum jam, sampai kembali ketimur (Ini disebut arah pradaksina). Di bawah ini Gw attach beberapa gambar yang Gw ambil pas diratu boko, Kalo kurang jelas, diklik aja gambarnya. Kalo kurang banyak, bisa liat di album jjs di photobucket Gw: gandiwibowo/jjs_01_jan_10

Gapura Ratu Boko

Candi Pembakaran

Pendopo Ratu Boko

Salah satu kolam (besar) pemandian

Keputren

Lokasi Goa Wadon dan Goa Lanang

Relief Yoni (Alat kelamin wanita) diatas Goa Wadon (Emangnya kaya gini ya?)