Sore, dihari terakhir bulan Mei 2010, pukul setengah empatan, Akregator Gw memberikan notifikasi, ada sebuah berita baru dari detik.com. Berita tentang penyerangan kapal Mavi Marmara (Kapal Dengan Misi Kemanusiaan untuk Gaza-Palestina) oleh tentara Israel. Kali ini beritanya bukan berisi tentang kronologis, akibat, korban atau tanggapan tentang penyerangannya, tetapi tentang tulisan salah satu dari 12 orang sukarelawan asal Indonesia yang juga merupakan surat untuk seorang temannya. Santi Soekanto aktivis “Sahabat Al Aqsha – Hidayatullah” mengirim email untuk rekannya Tommi Satryatomo. Bukan, bukan masalah teknis keberangkatanya ke Gaza, bukan pula liputan berita yang menyajikan segala informasi **Yang terkadang melanggar privasi orang lain**, tetapi tentang renungan diri, akan ketetapan dan keikhlasannya menjadi relawan.
Tulisannya lumayan panjang, silahkan baca di detik.com dalam berita berjudul “Israel Serang Kapal Kemanusiaan: Tulisan Santi Sehari Sebelum Mavi Marmara Diserang Israel”. Gw gak tau darimana sumber asli dari tulisan itu, karena Gw udah cari-cari blog Bung Tommi Satryatomo tetapi tidak ketemu (Ini satu kritikan untuk tim detik.com, seharusnya link blognya (sumber berita) disertakan). Sepertinya Bung Tommi Satryatomo juga memforward email Mba Santi kebeberapa orang temannya atau milis, karena ada banyak blogger yang memajang email dari Bung tommy di blognya, salah satunya mas wisat di dalam tulisannya yang berjudul “Gaza Tidak Membutuhkanmu! (Santi Soekanto, dari Freedom Flotilla, 30 Mei 2010)“, juga ada dari pengajian unsoed dalam artikelnya “Gaza Tidak Membutuhkanmu!“.
Beberapa kalimat yang menarik buat Gw ditulisan Mba Santi:
“Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.
Kalau dibiarkan riya akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala”
Ini gambaran jujur dari seseorang yang mengkhawatirkan akan keikhlasan yang dapat luntur karena keadaan. Terkadang kita memang sering lupa, terhanyut keadaan dan mulai membesar-besarkan peran pribadi, sehingga terkadang menutup peran yang lain, dan akhirnya menutup tujuan awal. Kalo menurut Gw, mba Santi lagi khawatir, takut kalau riya menggerayangi para relawan kemanusian karena adanya penuntutan hak istimewa atas kedudukan, dan jabatan mereka. Padahal ada banyak orang-orang yang tanpa tuntutan atas hak, mereka mengerjakan kewajiban-kwajiban/tugas-tugas yang tampaknya sederhana, tapi bila tanpa keikhlasan tak akan ada yg mau melakukannya. Seperti yang tertulis dalam lajutan tulisannya:
“Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya. Dari para ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.”
Disini, mba Santi juga merasa bahwa perannya belum bisa dibangga-banggakan, karena masih banyak pahlawan-pahlawan yang tak menuntut macam2 atas peran sederhana yang telah mereka lakukan. Dia merasakan betapa sebuah kegiatan kecil, bila hanya mengharapkan penghargaan manusia, maka tak akan ada yg mau melakukannya. Seperti yang telah dialaminya, membereskan toilet yg tersumbat tinja dengan tangannya, walau itu bukan tinja miliknya. Bila ia memikirkan penghargaan manusia, maka dia tak akan mau melakukannya, karena tak ada satupun manusia yg ada selain dirinya didalam toilet itu, juga karena pekerjaan itu menjijikan, harus mendorong tinja dengan tangan.
“Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet.
Blus!
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.”
Kata-katanya yang membuat Gw terharu, tersentil dan sungguh merasa malu, adalah ketika dia menjelaskan betapa sesungguhnya dia tak diperlukan untuk membebaskan Gaza, hanya Allah yang Maha Kuasa, pemiliki segala kekuatan yang dapat membebaskan Gaza-palestina. Dia dan suaminya hanya mengharapkan ridha Allah, dan namanya digolongkan sebagai penolong agama Allah:
“Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.
Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.”
Sungguh Gw merasa bersalah, merasa malu dan hina karena Gw belum bisa bergerak menolong agamaNya dan menolong membebaskan Al-Quds. Gw malu karena sebagian bangsa Indonesia masih sibuk membela Sukunya, dan memerangi suku lainnya. Gw malu karena sebagian bangsa Indonesia masih sibuk berperang antar ormas, antar supporter olah raga. Bahkan Gw malu, karena Gw masih sibuk mempermasalahkan arah kiblat yg **secara ilmiah** melenceng beberapa derajat, sedangkan sebagian kecil saudara Gw disana berjuang membela agamanya, berjuang membela kemanusiaan.
Tapi apakah kita harus mencaci, memaki, mengutuk, dan menghina seluruh bangsa Israel, dengan pembelaan “pembalasan”? Gw rasa, kita harus arif dengan hanya menghukum mereka yang bersalah, gak perlu menghina satu bangsa walau yang melakukannya mayoritas bangsa itu. Seperti kutipan dari twitter seorang teman “yg ngelakuin 1 org, bkn berarti yg salah 1 kelompok.”, walau twit itu tentang hal lain, tapi seharusnya begitu juga pandangan kita tentang segala hal, termasuk Israel…
Gw Rindu perang-perang jaman Rasulullah yang hanya memukul musuh yang mengangkat senjata dan menyerang secara fisik, yang hanya membunuh mereka yang berusaha membunuh dan membiarkan rumput-rumput tak bersalah tetap bergoyang, harta-harta tetap di pemiliknya, wanita-wanita, atau pemuda-pemuda yang tidak memerangi tetap hidup berdampingan. Biarkan Allah yang menentukan hukuman yang pantas bagi mereka yang bertanggung jawab atas penyerangan Kapal Mavi Marmara, bila pengadilan didunia tidak cukup mampu mengadili, Allah masih punya satu pengadilan diakhirat yg pasti mengadili seadil-adilnya.
http://bit.ly/GazaTakButuhKu (Gaza Tidak Membutuhkanmu!) @ http://blog.gandiwibowo.web.id http://plurk.com/p/5i8zth
This comment was originally posted on Twitter
Gaza Tidak Membutuhkanmu!: Sore, dihari terakhir bulan Mei 2010, pukul setengah empatan, Akregator Gw memberikan n… http://bit.ly/ctVvRE
This comment was originally posted on Twitter
saya cuma bisa berdoa….
@camera:
sama…