Pernah denger, kalo beberapa masjid di Indonesia mengalami kesalahan arah kiblat? Kata depag sih itu dikarenakan pengukuran arah kiblat yang cuma menggunakan kompas, dimana pengukuran dilakukan setelah tiang-tiang masjid berdiri. Tiang-tiang masjid yang menggunakan besi-besi sebagai tulangnya ini mempengaruhi arah jarum kompas yang terbuat dari magnet. Wajar dong kalo magnet mengarah ke besi, walau pengaruhnya tidak besar, mungkin hanya beberapa derajat tetapi dengan jarak Jakarta-Ka’bah yang hampir mencapai 8000 Km, akan membuat pergeseran beberapa derajat itu menjadi penyimpangan beratus-ratus kilometer. Karena Allah telah menyuruh kita memalingkan muka kearah ka’bah sewaktu shalat, maka sebisa mungkin kita mengarah kesana. Beberapa alat bantu yang bisa kita gunakan untuk menentukan arah kiblat adalah kompas, GPS, Teodolit, dan Google earth. Alat bantu yang terakhir ini yang paling gampang, mudah dan murah hanya perlu komputer dan koneksi internet.
Gw asumsiin kalo google earth sudah terinstalasi di PC, dan koneksi internet sudah tersambug, lalu bagaimana caranya menentukan arah kiblat? Pertama-tama berikan penanda letak ka’bah di Google Earth, caranya pilih menu Add->Placemark atau bisa langsung menggunakan shortcut Ctr+Shift+P, lalu kolom latitude di masukan koordinat 21°25’21.05″N, sedangkan kolom longitude dimasukan koordinate 39°49’34.31″E, begitu pula longitude dan latitude di tab view. Koordinat 21º 25? 21.05” Lintang Utara dan 39º 49’ 34.31” Bujur Timur adalah koordinate Ka’bah. Sekarang arahkan google Earth ke posisi yang akan kita cari arah kiblatnya. Sebagai contoh, Gw coba cek masjid Baitur Rahman, Duren Sawit, Jakarta Timur dengan koordinate 6°13’33.66″ Lintang Selatan dan 106°54’56.25″ Bujur Timur. Bisa juga dibuat placemark (penanda tempat) agar memudahkan, cara membuat place marknya sama dengan membuat placemark ka’bah, hanya saja koordinatnya diganti 6°13’33.66″S untuk latitude dan 106°54’56.25″E untuk longitudenya.
Untuk menentukan arah, kita dapat menggunakan ruler pada Google Earth. Caranya pilih menu Tools->Ruler, nantinya akan keluar jendela (window) info ruler. Klik pada peta tepat di penanda tempat yang akan kita cari arah kiblatnya, lalu pilih Penanda Ka’bah di pane Places agar tampilan pinda ke Ka’bah. Lalu klik tepat dipenanda ka’bah untuk menjadikannya titik akhir ruler. Sekarang kita bisa kembali ketempat semula (dengan klik penanda masjid di pane places) dan melihat arah kiblat yang seharusnya. Tampak bahwa Masjid Baitur Rahman di Duren sawit telah memiliki arah kiblat yang tepat. Kita bisa ngelakuin hal yang sama ditempat kita shalat dimanapun, bahkan didalam kantor.
Bagaimana shalat-shalat yang pernah kita lakuin dengan arah yang tidak ke kiblat, apakah itu batal? Maaf ya Gw lagi gak bahas teologi, tapi setahu Gw, selama kita tidak mengetahui aturan, kesalahan tidak akan dicatat sebagai dosa. Tetapi sungguh celaka bagi mereka yang tidak segera mencari tahu aturan yang berlaku. Terkadang, kita hanya menduga-duga arah kiblat sesuai dengan letak matahari terbenam atau kebiasaan orang-orang sebelum kita yang sudah shalat disitu. Terdengar seperti jawaban orang jahiliyah sewaktu diajak menyembah Allah ya… “kami beribadah sebagaimana bapak-bapak kami beribadah, bapak dari bapak kami beribadah, bapak dari bapak dari bapak kami dan orang-orang terdahulu jauh sebelum kami.” wedew Sok toy ya Gw.. ROFL







Sekarang sudah tau, kalo salah bisa jadi dosa dung?
Mungkin… yang nentuin dosa kan Tuhan, bukan saya
hohoho.. nice posting.. di kantor gua juga pernah tuh ganti arah kiblat
Geser….geser…
wowo gandi hebat, sedemikian melebur dengan teknology…
ayo kita budayakan teknologi untuk membatu ibadah
Ayo
mank prl diperhatikan nih, sepele tp bs jd dosa…
nice info…
thx
sayang diriku gaptek mas mas
Kan ada si palsu… suruh dia aja.
numpang comment ah……….
numpang bales juga
Pingback: Gandi Wibowo's Blog (interim) » Gaza Tidak Membutuhkanmu!
مَنْ اجْتـَهَدَ وَ اَصَابَ فـَلـَهُ اَجْرَانِ وَ مَنْ اجْتـَهَدَ وَأَخْطَأَ فـَلـَهُ اَجْرٌ وَاحِدٌ Barang siapa yang berijtihad dan ia benar dalam ijtihadnya maka baginya dua pahala dan barang siapa melakukan ijtihad lalu salah dalam ijtihadnya maka baginya satu pahala. Terimakasih semoga ijtihad anda bermanfaat bagi orang banyak.
@Gamal El-Reogy:
aamiin…