Tertidur entah setelah ataupun sebelum pukul 12 malam, lalu hidup kembali disubuh hari, dan berangkat dikisaran angka enam. Ber-Metro mini ria menembus kemacetan lalu disambung kereta listrik sampai stasiun pasar minggu, berjalan kaki beberapa ratus meter sampai menemukan sebuah angkutan kota yang akan mengantar tubuh ini ke Kantor. Wha… rutinitas yang sudah lama gak Gw lakuin, mungkin sudah lebih dari tiga tahun. Ditahun-tahun awal Gw memasuki dunia kerja, rutinitas ini selalu terulang dan terulang dalam kehidupan sehari-hari Gw, namun semenjak ada kendaraan pribadi milik orang tua, lalu disusul tersewanya kosan di samping kantor, membuat Gw jarang melakukan rutinitas ini.
Gw selalu teringat, untuk membeli sebuah koran T*MPO distasiun sebelum menaiki kereta listrik arah bogor. Beberapa lembar kertas berisi huruf-huruf bermakna serta gambar-gambar penjelasan, yang selalu memberikan cerita nyata untuk menemani langkah kaki mungil ini menuju dunia keras pengabdian negara **Lebay lagi ah…** membuat hati lupa akan waktu kerja yang sudah mepet, kereta yang terkadang terlambat, mentari yang sesekali membakar kulit, atau hiruk-pikuk kota Jakarta yang tidak berirama. Huruf-huruf itu Gw lahap dengan nikmat selama penantian kereta, didalam kereta, di pelataran stasiun kereta menembus penjaja kaki lima, menaiki jembatan penyebrangan, menyusup diantara trantib yang sibuk mengusir para pedagang, hinga Gw menaiki angkutan kota dan sampai ke kantor tercinta.
Namun Rutinitas itu kini telah sedikit berubah, kini Gw gak bisa lagi berjalan sembari menuntaskan cerita di koran T*MPO, karena sekarang perjalanan itu harus Gw lalui dengan sebuah rasa was-was, khawatir, deg-deg-an, bahkan pasrah bila ternyata Gw harus terjatuh dari ketinggian 3-7 meter. Sebuah jembatan penyebrangan yang selalu Gw lewati di depan stasiun Pasar Minggu (Wah danger nih… bisa ketahuan pola berangkat Gw, intel musuh siap mengintai **Lebay Mode: On), yang dulu ditangganya selalu terisi pengimis kecil yang masih tertidur di balik pelukan dingin sang ibu, serta beberapa penjaja yang mulai menyusun dagangannya di pelataran atas jembatan penyebrangan, kini tak lagi tampak seperti itu. Anak-anak tangga yang selalu menjadi penopang kehidupan para pengemis cilik, kini tak mampu lagi berdiri kokoh. Pelataran nyaman yang selalu menjanjikan untung berlebih bagi penjaja kaki lima, kini hanya menyisakan setumpuk sampah dan suasana suram kehidupan kota. Lihat saja sedikit gambaran yang sempat Gw abadikan ini, gambaran nyata sebuah jembatan penyebrangan didepan stasiun pasar minggu.
Sedih hati ini melihat sebuah fasilitas kota yang hancur seperti ini. Dalam hati… Gw sempat bertanya, kemanakah pemerintah? dimana uang-uang pajak rakyat yang selalu ditarik dengan alasan pembangunan? Lalu, Gw juga sempat berpikir, berapa banyak jembatan penyeberangan yang dapat diperbaiki dengan uang yang digunakan untuk perbaikan tembok gedung MPR/DPR atau Istana merdeka? Berapa banyak penjaja kaki lima, para pelaku ekonomi kelas bawah itu dapat meneruskan usahanya bila uang yang digunakan untuk bailout bank century digunakan untuk memperbaiki semua jembatan penyebrangan? bahkan mungkin masih sisa banyak untuk pembangunan pasar tradisional dan panti-panti penampung pengemis cilik. AH… Hidup ini memang aneh.
Tetapi Gw juga sering berpikir, buat apa jembatan penyebrangan itu diperbaiki? toh masyarakat tidak pernah menggunakan sesuai fungsinya. Seinget Gw, semenjak dulu disaat jembatan itu masih berdiri pongah, sangat sedikit pejalan kaki yang memanfaatkannya untuk menyebrang. Seperti yang sudah Gw sebutkan sebelumnya, lebih banyak dipakai untuk tidur para pengemis, atau menjajakan dagangan kaki lima. Para penyebrang lebih memilih menantang kereta besi yang melaju diatas 40KM/Jam itu. Sekarang, rusaknya jembatan ini telah menjadikan pembenaran bagi mereka menyeberang dijalan, lalu kemana saja mereka kemarin-kemarin disaat sang jembatan penyebrangan masih gagah? Mungkin seandainya dulu jembatan ini selalu dimanfaatkan sesuai fungsinya, pemerintah melalui lembaga terkait akan selalu memperhatikan kenyamanannya.
Entahlah… Gw bukan pengamat ekonomi, bukan anggota ormas peduli lingkungan, Gw bukan pihak yang berwenang memperaiki jembatan ini, Gw gak punya keahlian menganalisa sebab musabab, Gw gak punya solusi yang layak untuk masalah ini. Gw cuma seorang pejalan kaki di kota metropolitan ini, yang mungkin dengan sombongnya menyalahkan pemerintah, yang dengan angkuhnya menyudutkan pengemis, penjaja kaki lima, dan pejalan kaki yang asal menyeberang. Tetapi yang Gw tahu, jembatan itu dibuat untuk menyebrang, dan akan selalu Gw fungsikan seperti itu. Mungkin nanti disaat tubuh ini terhempas ketanah, dihantar sang jembatan untuk bersama-sama menunju akhir hidup, disaat itu mungkin kamera dan pena wartawan memberikan kisah dikoran tentang nasib jembatan penyeberangan. Dan mungkin, para pejalan kaki yang membacanya akan bangga menggunakan jembatan penyeberangan, bahkan para wakil rakyat, petugas pemerintah dan bahkan presiden akan memberikan perhatian pada kelangsungan hidup Jembatan penyeberangan.
Ah… sungguh ekstrim pengandaian yang Gw buat… semoga saja Jembatan Penyeberangan itu tak akan sempat menghantarkan penggunanya ke akhirat….






gile itu jembatan serem banget ya….
Betul mas… jantung saya berdegup kencang waktu lewat situ.
Kalo deket tempat wempi bekerja, jembatan penyeberangannya pake kayu malah.
skarang dah lapuk, mestinya dibuat pake beton saja biar modalnya agak mahal tapi awet.
permasalahannya, siapa yang mau memberi modal? pemerintahan kita gak kaya, lagi pula apakah akan dimanfaatkan buat menyebrang setelah jadi?
yah.. masih banyak kisah serupa para teman2 jembatan ini di kota ini.. di kota ini yg namanya fasilitas umum,kynya emg gak ada dana pemeliharaannya deh..
semoga gw salah..
semoga
Wiiih ngeri bener, keropos gt Bow..
Ati2 yak!
Sekarang makin parah mba… Gw ga berani naek lagi
PLOK PLOK PLOK,,,,, (Tepuk tangan) sederhana tulisannya tapi keren
Aduh… jadi tersanjung :”>