Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sedang di terpa Gelombang semangat membasmi korupsi, terlebih adanya kasus Bibit-Chandra. Sampai-sampai (lebih dari) satu juta Facebookers Indonesia ikut gabung disebuah grup yang mendukung Bibit-Chandra. Kesannya… sungguh mulia ikut ke grup itu, tapi setelah Gw mendengar klarifikasi KaPolri saat Rapat Dengar Pendapat bersama DPR beberapa malem kemaren, Gw makin bingung “Ada apa ini?”, “Siapa yang benar ini?”. Daripada pusing mikirin kasus yang gak jelas juntrungannya, mending Gw duduk manis nonton perjalanan hukum kasus ini dan gak perlu terburu-buru mengambil keputusan untuk berpihak kepihak yang mana. Karena indera ini adalah penipu, perlu otak yg jernih dan hati yang bersih untuk menterjemahkan semua pertanda itu.
Mari kita lihat kebelakang, keakar permasalahannya, dan terus jauh kebelakang. Akar dari kasus diatas adalah KORUPSI (Betul gak?), walau memang secara hukum didasari dari pemerasan, penyalahgunaan wewenang di KPK, lalu beranjak ke kriminalisasi KPK oleh POLRI (Ini blom terbukti semuanya). Korupsi yang kata bapak-bapak kita, merupakan warisan yang sudah membudaya di Indonesia, sangat sulit untuk dibasmi (Semoga Budaya Korupsi ini diklaim oleh negara lain dan Hilang dari negara Indonesia). Tercatat sejak tahun 50an, Indonesia sudah berjuang menghapus korupsi lalu dilanjutkan pada tahun 70an, tapi sampai saat ini masih ada saja korupsi di Indonesia. Sebuah status YM dari Frozzy “salah satu bibit korupsi,BIROKRASI yang berbelit-belit.” membuat Gw jadi kepikiran buat nulis masalah korupsi ini. Banyak orang benci akan korupsi, banyak pula yang berteriak-teriak meminta di berantas korupsi tetapi apakah mereka sudah bersih dari korupsi?
Gak perlu kita perhatiin Korupsi-korupsi besar yang merugikan keuangan negara yang angka-angka rupiahnya sampe nembus 7, 8, 9, 10 digit, atau bahkan lebih, karena sudah ada yg ditugasi untuk itu. Mari kita lihat saja korupsi-korupsi kecil yang ada dilingkungan kita, korupsi yang angkanya cuma sampe puluhan ribu, atau malah cuma 500 Rupiah. Kenapa Gw ngajak supaya kita perhatiin korupsi-korupsi yang cuma se-iprit itu? Karena disaat seseorang sudah ahli melakukan korupsi yang kecil-kecil, pasti dia tak perlu belajar dari awal untuk melakukan korupsi yang besar. Bila kita bisa mengurangi tindakan korupsi yang kecil-kecilan, semoga aja para calon koruptor besar semakin sedikit (Kan musti belajar dulu).
Mulai dari bikin KTP, SIM, kena tilang bahkan sampe naek kereta api tersebar praktek-praktek korupsi. Korupsi-korupsi yang kecil itu terkadang gak disadari masyarakat kita sebagai sebuah tindakan merugikan negara (Baik secara ekonomi atau pun moralitas bangsa), mereka cuma mau cari cara cepet, cara gampang, dan gak mau repot. Jangan selalu salahkan pak RT, RW, atau petugas kelurahan yang minta uang sampingan dari pembuatan KTP, mereka cuma mengambil kesempatan dari kesalahan yang kita lakuin. Jaminan deh, yg dimintain uang sampingan di kelurahan pasti nembak bikin KTPnya, atau kalo pun gak nembak, pasti lu duluan yg nanya ke bapak petugas.. “Biaya administrasinya berapa pak?” terus dia jawab “Serelanya pak” ROFL. Begitu juga dengan pembuatan SIM, biasanya yg bikin SIM-nya “Nembak” pasti dia gak bisa bawa mobil/motor atau emang gak pernah tahu aturan jalan raya (Gila su’udzon bangat ya Gw). Atau pas ditilang dan tiket kreta api, pasti kita mo nyogok petugasnya karena takut kena denda yg lebih besar atau malas mengurusnya.
Anak-anak di Indonesia sudah mengenal (Mungkin sampai praktek) korupsi sejak bangku sekolah. Dimana Orangtua mereka berani membayar berapa saja agar ananknya masuk sekolah negri bahkan sekolah favorite. Dimana guru-guru memaksa untuk menjual buku-buku terbitan penerbit tertentu dan selalu mengejek murid yang menggunakan buku terbitan penerbit lain atau bahkan buku bekas atau pinjaman. Dimana kawan-kawan sebangku selalu mengajak mencontek atau mengebet (Melihat buku) saat ujian. Oh ternyata bibit-bibit korupsi sudah ada sejak kecil.
Lalu bagaimana mengatasinya? Gw gak tau… masalah ini terlalu kompleks, lebih baik Gw mulai saja dari diri sendiri, mencoba mentaati peraturan-peraturan kecil yang ada, walau terkadang Gw sendiri selalu melanggar aturan
Cerita dibalik layar:
Ternyata Gw gak pandai membahas hal-hal seperti ini, nulis aja susah, pengin diperingan gaya bahasanya malah jadi berantakan ngalor ngidul, tulisan ini dah ada lebih dari 2 minggu.. daripada jadi draft terus mending Gw publish aja deh…
tuisannya menarik bro. cukup enteng untuk dicerna. Bagusnya istilah korupsi daganti dengan kata pencuri mungkin ada efek hahaha,…
btw, saya setuju dimulai dari diri sendiri. i will do it bro…
Salam dari natuna.
setuju ama bongjun, start from ourself being an honest person
akhirnya di posting juga…hehehe
akurrrrrr saya juga embulet sama kasus nya. sana sini mondar mandir kanan kiri repot ah repot deh, ndak jelas
kalu ada yg ngerti, tulung cerita ya. pengen tau alurnya, tapi mualeseeee mantengin dari tipi serba embulet
korupsi????? kelakuan bedebah!!!
@Bongjun;
Lets Do it brader…. Salam dari Jakarta..
@quinie:
Gw orang yang jujur gak?
@Frozzy:
Iya Nih.. BT ngeliat di draft ada ini postingan.
@queen:
Hehehehe… sudah kita betulin diri sendiri aja… muali dari yg kecil
@Zulhaq:
Did you?
ya itu di sekolahku dulu… dikit2 uang LKS. pernah sama guru PPKn, disuruh beli fotokopian soal. trus namanya dicatet. jadi kita ga boleh minjem punya temen dan fotokopi sendiri. sebelll…
kalo waktu SD, pernah sekali nyatut 100 rupiah, kembalian belanjaan titipan mama. dimarahin habis2an XDDD abis itu ga berani nyatut lagi. kalo mau minta, ya minta langsung.
dulu juga kalo ulangan kadang nyontek, udah bibit korupsi tuh ya. tapi sering beranjak dewasa, kan kita jg belajar, nyontek itu sama salahnya sama korupsi.
@MacanGadungan:
Nyontek itu bibit2 korupsi… mari didik Generasi muda supaya anti korupsi **Mudah2an anak2 Gw nanti bukan tukang nyontek
nah itu dia, kadang kita diri gak sadar bahwa kita menikmati lingkungan korupsi itu untuk mempermudah hidup
emang di sekolah juga diajarin korupsi kok. guru ngasih pertanyaan: budi disuruh ibu membeli jambu 1 kg. jambu 1 kg isinya 23 buah. di perjalanan budi memakan 1 buah. berapa jambu yg diberikan budi kepada ibunya?
jawab: ya 1 kg lah…masa budi mau ngitungin jambunya. dimakan satu juga gak masalah. ini bu, jambunya 1 kg…..masa budi mau bilang, ini bu jambunya 22 buah. gak mungkin.
aduh…gw ngomong apaan sih ini?
@Mba Ria:
Nah.. itu dia, makanya mari nyoba membasmi korupsi mulai dari diri sendiri.
@GeRrilyawan:
Hahahahaha… Gw juga gak tau lu ngomong apaan.
Sebentar lagi Hari Ibu
Jika tak ada beras di gentong
Jika tak ada seteguk air di kendi
Jika tak ada lembaran rupiah dibawah kasur sang ibu
Mengapa tak mengirimkan masakan lezat
Untuk persembahan kepada Ibu atau isteri tercinta di hari Istimewa
Jika artikel masakan sudah jadi
Lalu bubuhi kalimat ” Masakan dengan sentuhan cinta ini saya persembahkan buat wanita yang teramat istimewa”
Persembahkan hasil masakan anda dan daftarkan dalam acara SupermanShow di
http://abdulcholik.com/kuliner/supermanshow-la-tetates-de-timbele
Jika itu anda lakukan dengan tulus
Sebuah atau tiga buah kecupan penuh kasih sayang akan di terima
Plus bisikan lembut ” I love you my Superman ”.
Salam hangat dari dapur BlogCamp