2009
11.21

Harga teman

“Eh.. ada yang mau beli ini gak? Cuma 25 ribu aja, Gw bikin sendiri nih”
“Waw.. ini lu bikin sendiri? Bisa kurang gak? Harga temen lah… 20 ribu aja ya”

Percakapan seperti itu sering Gw denger, ketika teman Gw yang sedang berwiraswasta ataupun sekedar berdagang menjajakan barang dagangannya. Tidak aneh percakapan itu, sekedar percakapan tawar-menawar seorang pedagang dan pembeli yang mencoba mencari kata sepakat untuk ijab qabul perdagangan. Tetapi Gw sedih ketika menyadari bahwa si pedagang adalah kawan si pembeli, dan sipembelipun telah mengetahui bahwa kawannya itu berdagang untuk mencari penghasilan tambahan, tetapi tetap ditawar, bahkan dengan alasan “harga teman”.

Tidak ada salahnya menawar, karena itu memang proses yang harus terjadi dalam transaksi perdagangan. Namun Gw prihatin mendengar sebuah ungkapan “Harga Teman” yang dijadiin alasan untuk mendapatkan sebuah harga yang jauh lebih murah dari harga seharusnya, bahkan sampai gratis. Gw jadi teringat sewaktu PB2009 kemarin, **Set dah udah lama bangat ya** Pandji pernah bilang “Kalo gak bisa menghargai teman kemungkinan besar gak bisa menghargai orang lain”. Gw lupa redaksinya bener kayak gitu atau gak, yang jelas intinya kayak Gitu deh. Kalimat itu keluar sewaktu dia membahas albumnya yang diminta secara gratis oleh seorang temannya.

Bila memang si pembeli menganggap sebagai seorang teman bagi sipenjual, seharusnya dia mengerti seperti apa susahnya berkarya dan berjualan. Seharusnya dia mengerti bahwa karya dan barang dagangan temannya itu memiliki modal. Seharusnya, “harga teman” tidak lebih murah dari harga pasar, seharusnya harga teman sama dengan harga pasar atau bahkan lebih mahal, karena seorang teman harus menghargai usaha temannya. Jadi seharusnya harga teman itu adalah harga pasar di tambah harga “penghargaan” seorang teman. Kalo “harga teman” lebih rendah dari harga pasar, berarti “Penghargaan” dihargai minus dong?

Akhir-akhir ini Gw mendengar, bahwa beberapa kawan blogger mulai menjajaki lantai percetakan, mecoba mengetuk pintu-pintu penerbit, menggores tinta dari keyboardnya. Mereka mulai mencoba membuat tulisan maya-nya di blog menjadi sebuah tulisan nyata dalam bentuk buku. Tenang saja kawan, Gw selalu mensupport kalian. Biarkan Gw menghargai karya kalian, dengan membeli karya kalian dengan “harga teman” **Tapi itu juga kalo Gw punya duit ROFL

2009
11.15

Kekah jangan Punah

Kekah, seekor primata endemik dari kepulauan Natuna. Eh… gak tau Natuna? yang bener aja? Natuna itu kepulauan paling utara dari negara Indonesia. Sebuah kabupaten yang menjadi pintu utara Indonesia di laut cina selatan. Di kepulauan itu tinggal Presbytis Natunae atau sering disebut kekah oleh penduduk lokal, seekor primata atau sejenis monyet yang hanya dapat ditemui di kepulauan nantuna.

Seorang blogger Natuna, Bong jun, yang peduli akan keberadaan hewan ini memberitahukan Gw lewat blognya, bahwa Kekah sudah terancam punah. Lalu dibentuknya akun di Facebook untuk mendukung Kekah tetap lestari, hingga hari ini Gw baca disalah satu komentar di foto pada profil kekah natuna, bahwa wakil bupati Natuna sudah bergabung/berteman dengan Kekah Natuna versi Facebook. Semoga saja dengan begitu, pemerintah Natuna ikut peduli akan hewan ini. Jangan sampai Kekah bernasib sama dengan Hariamau jawa, elang jawa, elang bali, dan hewan-hewan endemik Indonesia yang sudah gak tampak helai bulunya, sudah tak tercium tengik kotorannya.

Jangan sampai Kekah natuna punah, lalu penyuk-penyuknya ikut punah, dan lama2 manusia natuna ikut punah, lalu kepulauan natuna ikut punah dari peta Indonesia. Jangan gembar-gembor kehilangan lipitan, sigatan atau ambalat, atau gembar-gembor dukung bibit-chandra yang blom jelas meraka bersalah atau tidak. Mari tunjukan nasionalisme kita, mulailah peduli sama pulau2 terluar, mulai peduli dengan penduduknya, dengan habitatnya. Mari juga gunakan Facebook untuk mendukung sesuatu yang lebih nyata, yang lebih jelas.

Dukung Kekah Natuna di Facebook:
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000470559707

Foto diatas Gw pinjem dari blognya bong jun.

2009
11.13

Tresno Jalaran Ora Ono Sing Liyo

“Tresno Jalaran Ora Ono Sing Liyo” merupakan sebuah pribahasa plesetan dari pribahasa jawa “Tresno Jalaran Soko kulino”. Mungkin gak semua yang baca bisa mengerti arti dua pribahasa yang baru aja Gw sebutin ya? “Tresno Jalaran Soko kulino” artinya “Cinta Tumbuh karena telah terbiasa” kayak lagunya Dewa yang “Risalah Hati”. Sedang “Tresno Jalaran Ora Ono Sing Liyo” artinya “Cinta tumbuh karena tidak ada yang lain”, sedikit miris ya artinya.

Terkadang pribahasa “Tresno Jalaran Soko kulino” yang merupakan pribahasa aslinya (Abis ini Gw sebut pribahasa asli aja biar singkat), dijadikan alasan seseorang untuk merayu lawan jenisnya atau sering juga dijadikan tameng perjodohan oleh orang tua. Entah pribahasa ini benar atau tidak, tapi banyak contoh disekitar Gw yang tampaknya bisa dijadikan bukti nyata pribahasa ini. Banyak senior, dan junior Gw yang menikah dengan teman seangkatan, atau rekan kerja, yang bertahun-tahun saling berhubungan **hubungan kerja ataupun kuliah**.

Sedangkan pribahasa “Tresno Jalaran Ora Ono Sing Liyo” atau pribahasa plesetan dari pribahasa asli tadi (Abis ini Gw sebut pribahasa plesetan aja biar singkat), baru Gw denger kemaren sabtu, 8 Nopember 2009 tepatnya. Sewaktu Gw dan beberapa junior Gw mendadak jalan ke pemalang buat menghadiri pernikahan salah seorang temen kuliah junior Gw itu, yang berarti juga masih junior Gw **Mapus dah bacanya, pusing-pusing deh**. Pribahasa ini keluar ketika kami membahas tentang jodoh dan lain-lainnya **Gw lupa, kapan dan pas lagi bahas apa :p**. Pribahasa ini dipakai untuk mengolok-olok seseorang yang blom juga menemukan jodohnya, **Walau Gw juga blom nemu jodoh Gw, tapi yang dimaksud seseorang disini Bukan Gw loh!! CATAT!!

Lalu Gw mulai menyadari kesamaan dari dua pribahasa diatas. Pada dua pribahasa itu tampak bahwa seorang manusia akan jatuh cinta walau sebelumnya tidak berniat mencintai atau memang tidak mencintai, tetapi karena keadaan yang memaksanya (baik disadari atau tidak), maka tumbuh cinta dihatinya. Pada kedua pribahasa itu, manusia tadi dipaksa mengenakan “Kaca Mata Kuda”. Menutup penglihatan mereka terhadap yang lain (Ora ono sing liyo) dan membiarkan tujuan perhatian hanya pada satu orang selama beberapa waktu (kulino).

Hal ini gak hanya berlaku pada perihal cinta-mencintai sesama lawan jenis, tapi terhadap semua hal. Mungkin itu sebabnya semua agama memerintahkan agar umatnya memandang tidak ada tuhan selain Tuhan diagama itu. Mungkin Tuhan sudah menyadari kelemahan manusia dalam mencintai, jadi dia bimbing agar kita mudah mencintainya dengan memasangkan kacamata kuda dimata kita.

Terkadang Hobi-pun terpengaruh karena kacamata kuda ini. Seorang manusia akan sangat gemar mancing, kalo dari kecil dia selalu dikenalkan terhadap mancing oleh orang tuanya **Karena orang tuanya suka mancing**, atau seorang anak akan punya cita-cita jadi dokter, karena semua orang dirumahnya adalah dokter dan selalu membicarakannya. Seseorang juga bisa mencintai artis, lagu, kegiatan, penampilan, atau benda-benda lainnya karena itu semua yang selalu ada disekelilingnya.

Lalu Gw ambil kesimpulan bahwa:

  1. Kalo kita udah **Menganggap** jatuh cinta sama seseorang, atau sesuatu jangan-jangan kita hanya sedang mengenakan kaca mata kuda, bagai katak dalam tempurung yang bersembunyi dari alternatif-alternatif lain atau pertimbangan-pertimbangan lain, Mungkin ini yang menyebabkan orang berpendapat bahwa Cinta itu Buta, padahal orangnya aja yang membutakan diri.
  2. Kalo kita mau mencintai seseorang atau sesuatu yang gak kita cintai, cukup perhatikan dia saja, gak usah denger pendapat orang lain, gak usah cari alternatif lain. Lakukan beberapa saat, Bila cinta tidak berlanjut silahkan hubungi dokter **Halah**, berdasar pribahasa asli dan plesetan diatas, seharusnya cinta pasti tumbuh.

Apa iya segampang itu? Lalu bagaimana yang dibilang orang dengan cinta pandangan pertama? Karena Gw gak percaya ama yang namanya cinta pada pandangan pertama, jadi gak Gw masukin tuh ke kategori cinta. Perasaan yang tumbuh pada pandangan pertama, bagi Gw itu cuma sebuah khayalan atau nafsu. Khayalan kita bahwa kita sudah menemukan pasangan dengan ciri-ciri yang sudah lama kita patri sebagai syarat, atau Nafsu pada seseorang yang memiliki kelebihan, entah itu fisik, gaya bicara, pemikiran, bahasa, keuangan, atau lainnya.

2009
11.11

Hidup dan Sudoku

Sudoku adalah sebuah permainan logika angka, yang mewajibkan kita untuk mengisi angka dari 1 sampai 9 didalam bujursangkar 9×9 yang terdiri dari 9 sub bujursangkar/kolom 3×3 tanpa ada sebuah angka berulang dalam satu baris (Horizontal dan Vertical) ataupun kolom. Sudoku sudah ada sejak abad 18, dan mulai terkenal dijepang tahun 1986 dengan nama sudoku yang merupakan singkatan dari kalimat jepang “Suuji wa dokushin ni kagiru” yang artinya “angka-angkanya harus tetap tunggal”. Informasi ini diambil dari wikipedia, termasuk gambar dibawah ini.

Sudoku yang biasa Gw maenin, adalah sudoku dari permainan “5ud0ku” yang bisa diunduh dan di-install ke ponsel bertekhnologi JAVA dari getjar.com. Sudoku pada 5ud0ku memiliki 3 tingkat kesulitan, “easy”, “normal” dan “hard”. Kesulitan tingkat pertama (“easy”) memberikan teka-teki sudoku, yang dengan hanya mengikuti alur, menghitung dan memperhatikan angka2 yang telah ada, lalu mengisi angka2 yang belum ada dalam satu baris (horizontal/vertical) dan satu kolom, pasti kita bisa menyelesaikannya.

Pada tingkat kesulitan kedua (“normal”), tidak cukup hanya menghitung angka2 dan mencari angka2 yang belum ada di tiap baris dan kolom untuk menyelesaikannya. Kita juga harus melihat keterkaitan posisi angka2 ditiap kolom dengan kolom yang lain yang sebaris sehingga kita dapat mengeliminasi kemungkinan-kemungkinan ditiap kolomnya dan menemukan kepastian angka dan posisinya dikolom itu. Tingkat kesulitan kedua ini sudah memerlukan “Feelling” selain juga perhitungan untuk menyelesaikan teka-teki sudoku.

Di tingkat teratas atau tersulit (“hard”), dapat dipastikan kita harus melakukan coba-coba. Segala perhitungan dan “feelling” yang bisa kita gunakan untuk menyelesaikan 2 tingkat kesulitan dibawahnya (“easy” dan “normal”) tak lagi bisa diandalkan. Pasti kita akan bertemu sebuah keadaan dimana tidak ada satupun kotak yang dapat dipastikan nilai angkanya, dan tak satupun angka dapat dipastikan posisinya. Kita akan menemui sebuah angka dengan kemungkinan 2 posisi atau lebih, sebuah kotak dengan kemungkinan diisi 2 angka atau lebih. Disaat seperti ini, kita diwajibkan untuk mencoba-coba memilih letak sebuah angka disatu kolom, lalu melanjutkan perhitungan dan gunakan “feelling” untuk melanjutkan. Disaat ternyata Sudoku tak dapat diselesaikan, kita harus mengulang kembali ke posisi awal sewaktu mencoba-coba, dan memilih pilihan lain.

Hidup ini juga bisa diumpamakan sebagai sebuah permainan sudoku. Adakalanya kita hanya bertemu sebuah permasalahan kecil, yang dengan mengikuti alur kehidupan kita akan dapat melewatinya. Sebagai contoh, dimasa sekolah kita dapat menyelesaikan sekolah hanya dengan mengikuti “aturan” yang berlaku, yaitu “belajar”, atau permasalahan-permasalahan lain, Setiap orang akan menemukan permasalahannya sendiri-sendiri yang unik dan berbeda dengan orang lain. Terkadang, permasalahan kecil seperti ini gak pernah kita anggap exist karena kita gak merasakannya sebagai sebuah permasalahan.

Suatu saat dalam hidup kita, sebuah permasalahan yang sedikit rumit akan hadir menemani hari-hari sibuk kita. Permasalahan yang memerlukan mata hati untuk dapat memahami jawabannya, permasalahan yang diperlukan keahlian, kemahiran dan kebiasaan serta kemampuan mengkaitkan dengan permasalahan lain untuk menyelesaikannya. Semakin seseorang sering bertemu masalah seperti ini, semakin tajam “feelling”-nya untuk menemukan jawaban dan solusi dari permasalahan itu.

Lalu disatu waktu, kita juga pasti akan menemukan sebuah permasalahan yang sering diperumpamakan sebagai “buah simalakama”. Permasalahan dengan dua atau lebih kemungkinan cara menyelesaikannya, tanpa kita tahu akan seperti apa nanti setelahnya. Disaat ini diperlukan sebuah keberanian untuk menentukan sebuah pilihan jalan hidup untuk melewati permasalahan itu.

Dalam permainan 5ud0ku, kita diberikan bantuan sebuah “pencil” untuk menandai kemungkinan angka pada tiap kotak, juga ada fasilitas “undo/redo” untuk mengulang langkah-langkah yang telah diambil. Selain itu juga disediakan fasilitas tambahan **yang Kalo Menurut Gw** merupakan cara curang menyelesaikan sudoku, yaitu fasilitas “Check” dan “Display Solution”. Didalam kehidupan, bantuan-bantuan itupun ada. Berpikir dan merenung adalah “pencil” dalam sudoku kehidupan. Maaf, instropeksi dan taubat adalah “undo/redo” kehidupan. Lalu agama, do’a, dan tawakal adalah “Check” serta “Display Solution” yang diberikan Tuhan sebagai pembuat permainan sudoku kehidupan.