Perihal Porno

Parah ini mba, masa masih Sekolah udah berani melakukan beginian…” ucap seorang siswa ketika diwawancara oleh seorang wartawan televisi.
Adek udah melihat videonya?” lanjut pertanyaan sang wartawan,
Udah mba, ini ada di HP saya..

Sebuah wawancara singkat di sebuah stasiun televisi swasta (Detailnya mungkin gak seperti ini, ini hanya inti sarinya), ketika memberitakan sebuah tragedi kesusilaan dimana dua orang siswa sekolah **Kalo gak salah** SMP terekam adegan mesumnya dan beredar kemasyarakat. Ironis ya, masih SMP sudah berhubungan intim.

Gw rasa itu bener luna maya deh, mirip bangat” celetuk seorang teman membahas video terbaru yang diduga diperankan oleh ariel dan luna maya.
Iya, yang cowok juga mirip sama ariel…
Ih Gw belom bisa donlot, bagi dong..” timpal yang lain…

Yang ini cuma hasil karangan Gw, tapi Gw yakin, percakapan kedua ini banyak terjadi di sekeliling kita beberapa hari ini. Percakapan tentang sebuah video mesum yang diperankan oleh 2 orang yang menyerupai luna maya dan ariel (peterpan).

Lihat…. Betapa warga Indonesia sangat peduli dengan yang namanya Pornografi, pornoaksi, atau pornoisme lainnya. Bahkan setahu Gw, ada LSM yang mengadukan ariel dan luna maya karena diduga telah melakukan sebuah pornoaksi. Gw jadi inget, dulu sewaktu majalah playboy masuk ke Indonesia, sebagian besar warga Indonesia mengecamnya… maka batallah ijin terbit majalah itu.

Kebudayaan Indonesia tidak pernah mentolerir hal-hal berbau porno. Bangsa Indonesia memiliki budaya timur, budaya sopan santun, budaya malu, budaya tabu akan hal-hal berbau sex. Segala hal yang berbau seks pasti di kecam abis dinegara ini. Hotel-hotel selalu dirazia, tempat-tempat pijat di geruduk, warung remang-remang diserbu, lokalisasi dibongkar. Ah… aku bangga menjadi seorang warga negara Indonesia, sebuah negara bersusila.

Tapi tunggu dulu, kalo memang melakukan hubungan seksual diusia dini (semasa sekolah) adalah pelanggaran asusila, apakah menonton dan mengkoleksi (menyimpan) video adegan itu tidak melanggar asusila? Lalu bila melakukan hubungan seksual diluar pernikahan melanggar UU anti pornografi, apakah mendownload video dari internet, mengkopinya kehardisk, dan menyimpannya tidak termasuk pelanggaran terhadap UU pornografi? Bila berzina, meminum miras, dan berjudi itu tidak sejalan dengan budaya bangsa, Apakah menghancurkan rumah, memumukuli orang, dan mengancam orang tanpa wewenang (secara hukum) adalah budaya bangsa Indonesia?

Ah… ternyata dosa orang lain dapat dengan mudah menutup padangan mata akan dosa kita sendiri.

Gaza Tidak Membutuhkanmu!

Sore, dihari terakhir bulan Mei 2010, pukul setengah empatan, Akregator Gw memberikan notifikasi, ada sebuah berita baru dari detik.com. Berita tentang penyerangan kapal Mavi Marmara (Kapal Dengan Misi Kemanusiaan untuk Gaza-Palestina) oleh tentara Israel. Kali ini beritanya bukan berisi tentang kronologis, akibat, korban atau tanggapan tentang penyerangannya, tetapi tentang tulisan salah satu dari 12 orang sukarelawan asal Indonesia yang juga merupakan surat untuk seorang temannya. Santi Soekanto aktivis “Sahabat Al Aqsha – Hidayatullah” mengirim email untuk rekannya Tommi Satryatomo. Bukan, bukan masalah teknis keberangkatanya ke Gaza, bukan pula liputan berita yang menyajikan segala informasi **Yang terkadang melanggar privasi orang lain**, tetapi tentang renungan diri, akan ketetapan dan keikhlasannya menjadi relawan.

Tulisannya lumayan panjang, silahkan baca di detik.com dalam berita berjudul “Israel Serang Kapal Kemanusiaan: Tulisan Santi Sehari Sebelum Mavi Marmara Diserang Israel”. Gw gak tau darimana sumber asli dari tulisan itu, karena Gw udah cari-cari blog Bung Tommi Satryatomo tetapi tidak ketemu (Ini satu kritikan untuk tim detik.com, seharusnya link blognya (sumber berita) disertakan). Sepertinya Bung Tommi Satryatomo juga memforward email Mba Santi kebeberapa orang temannya atau milis, karena ada banyak blogger yang memajang email dari Bung tommy di blognya, salah satunya mas wisat di dalam tulisannya yang berjudul “Gaza Tidak Membutuhkanmu! (Santi Soekanto, dari Freedom Flotilla, 30 Mei 2010)“, juga ada dari pengajian unsoed dalam artikelnya “Gaza Tidak Membutuhkanmu!“.

Beberapa kalimat yang menarik buat Gw ditulisan Mba Santi:

“Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala”

Ini gambaran jujur dari seseorang yang mengkhawatirkan akan keikhlasan yang dapat luntur karena keadaan. Terkadang kita memang sering lupa, terhanyut keadaan dan mulai membesar-besarkan peran pribadi, sehingga terkadang menutup peran yang lain, dan akhirnya menutup tujuan awal. Kalo menurut Gw, mba Santi lagi khawatir, takut kalau riya menggerayangi para relawan kemanusian karena adanya penuntutan hak istimewa atas kedudukan, dan jabatan mereka. Padahal ada banyak orang-orang yang tanpa tuntutan atas hak, mereka mengerjakan kewajiban-kwajiban/tugas-tugas yang tampaknya sederhana, tapi bila tanpa keikhlasan tak akan ada yg mau melakukannya. Seperti yang tertulis dalam lajutan tulisannya:

“Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya. Dari para ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.”

Disini, mba Santi juga merasa bahwa perannya belum bisa dibangga-banggakan, karena masih banyak pahlawan-pahlawan yang tak menuntut macam2 atas peran sederhana yang telah mereka lakukan. Dia merasakan betapa sebuah kegiatan kecil, bila hanya mengharapkan penghargaan manusia, maka tak akan ada yg mau melakukannya. Seperti yang telah dialaminya, membereskan toilet yg tersumbat tinja dengan tangannya, walau itu bukan tinja miliknya. Bila ia memikirkan penghargaan manusia, maka dia tak akan mau melakukannya, karena tak ada satupun manusia yg ada selain dirinya didalam toilet itu, juga karena pekerjaan itu menjijikan, harus mendorong tinja dengan tangan.

“Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet.

Blus!

Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana

Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.”

Kata-katanya yang membuat Gw terharu, tersentil dan sungguh merasa malu, adalah ketika dia menjelaskan betapa sesungguhnya dia tak diperlukan untuk membebaskan Gaza, hanya Allah yang Maha Kuasa, pemiliki segala kekuatan yang dapat membebaskan Gaza-palestina. Dia dan suaminya hanya mengharapkan ridha Allah, dan namanya digolongkan sebagai penolong agama Allah:

“Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.”

Sungguh Gw merasa bersalah, merasa malu dan hina karena Gw belum bisa bergerak menolong agamaNya dan menolong membebaskan Al-Quds. Gw malu karena sebagian bangsa Indonesia masih sibuk membela Sukunya, dan memerangi suku lainnya. Gw malu karena sebagian bangsa Indonesia masih sibuk berperang antar ormas, antar supporter olah raga. Bahkan Gw malu, karena Gw masih sibuk mempermasalahkan arah kiblat yg **secara ilmiah** melenceng beberapa derajat, sedangkan sebagian kecil saudara Gw disana berjuang membela agamanya, berjuang membela kemanusiaan.

Tapi apakah kita harus mencaci, memaki, mengutuk, dan menghina seluruh bangsa Israel, dengan pembelaan “pembalasan”? Gw rasa, kita harus arif dengan hanya menghukum mereka yang bersalah, gak perlu menghina satu bangsa walau yang melakukannya mayoritas bangsa itu. Seperti kutipan dari twitter seorang teman “yg ngelakuin 1 org, bkn berarti yg salah 1 kelompok.”, walau twit itu tentang hal lain, tapi seharusnya begitu juga pandangan kita tentang segala hal, termasuk Israel…

Gw Rindu perang-perang jaman Rasulullah yang hanya memukul musuh yang mengangkat senjata dan menyerang secara fisik, yang hanya membunuh mereka yang berusaha membunuh dan membiarkan rumput-rumput tak bersalah tetap bergoyang, harta-harta tetap di pemiliknya, wanita-wanita, atau pemuda-pemuda yang tidak memerangi tetap hidup berdampingan. Biarkan Allah yang menentukan hukuman yang pantas bagi mereka yang bertanggung jawab atas penyerangan Kapal Mavi Marmara, bila pengadilan didunia tidak cukup mampu mengadili, Allah masih punya satu pengadilan diakhirat yg pasti mengadili seadil-adilnya.

Rumus Bahasa Gaul

Akhir-akhir ini, Gw merasa makin bodoh aja, setiap ngobrol sama temen, pasti Gw butuh waktu 1-5 menit buat nerjemahin. bukan sekedar tulisannya yang aneh2 (Nulis sms, chatting, status FB, tweet, plurk, atau lainnya dah kayak lagi bikin password), tapi juga kata2nya yang emang gak ada di kamus kata dalam otak Gw. Terakhir kali, kata “sekong” muncul di timeline twitter Gw, dari seorang teman (MacanGadungan) yang lagi ngebahas pegawai disalon. Sebelumnya juga ada kata “Lekong” dari tulisan di blog Zulhaq.

Sebagai seorang pemuda generasi abad 21, Gw ambil jurus keramat, semedi di ranah maya, sembari komat-kamit ngetik keyword di rumah mbah Google. Banyak juga Gw dapet jawaban, tapi yang paling sesuai ama kemauan Gw ada di forum indoforum.org dalam thread yang berjudul “bahasa gaul gitu loh“. Walaupun itu thread 4 tahun yang lalu, tapi masih informatif buat Gw **Atau dasar Gw-nya aja yang kurang gaul ya? HAhahaha** didalam thread itu, di jelasin ada rumus asal muasal bentukan kata dalam bahasa gaul, yaitu (Gw tulis ulang nih):

TAMBAHAN AWALAN “KO”

Setiap suku kata diambil 1 suku kata pertama, kalo suku kata itu gak berakhiran huruf konsonan, maka ditambah konsonan dari suku kata setelahnya, kemudian konsonan awal ditukar sama huruf “k” dari awalan “ko”. contoh:

Mati = Mat = Ko + Mat = MoKat
Jual = Jul = Ko + Jul = JoKul
Preman = Prem = Ko + Prem = ProKem (Biasanya diubah lagi jadi okem)
Bisa = Bis = Ko + Bis = Bokis (Jadi Bokis itu awalnya berarti “bisa”, bukan “Bo’ong”)

KOMBINASI “E” + “ONG”

Sama seperti sebelumnya, setiap kata asli diambil satu suku kata pertama dengan memastikan suku kata itu diakhiri huruf konsonan. Lalu huruf vokal pada suku kata itu diganti dengan huruf “e”, kemudian di beri akhiran “ong”. contoh:

Laki = Lak = LeKong
Lesbi = Lesb = LeSBong
Banci = Banc = BeNCong
Sakit = Sak = SeKong

Terkadang, ada juga yang menggunakan “ES” bukan “ONG”, seperti “Lekong” jadi “Lekes”, “Bencong” jadi “Bences”.

TAMBAHAN SISIPAN PA/PI/PU/PE/PO

Setiap kata asli, disisipkan suku kata “pa”,”pi”,”pu”,”pe”,atau “po” pada tiap suku katanya sesuai huruf vokal di suku kata itu. Contoh:

Siapa = Si – a – pa = Si+pi – a+pa – pa+pa = sipiapapa
Gila = Gi – la = Gi+pi – La+pa = Gipilapa

Nah, kalo yang ini Masih Gw pake (Tapi sisipannya “ga”,”gi”,”gu”,”ge”,”go”), dari dulu ampe sekarang kalo musti ngobrol ama adek Gw si iin-green.

====

Dalam thread asalnya, disebutin ada juga rumus ke-4, yaitu “TAMBAHAN SISIPAN IN”, tapi menurut Gw ini sama ama rumus ketiga, cuma diganti aja sisipannya. Selain itu bahasa-bahasa gaul yang digunakan saat ini sudah banyak yang tidak lagi menggunakan rumus-rumus baku, semisal kata “Mawar” yang artinya “Mau” atau “Macan” yang artinya “Macet” dan lain sebagainya, sehingga perlu dibuat kamus bahasa gaul, yang memadankan setiap kata dalam bahasa gaul, dengan kata dalam bahasa Indonesia resmi  sesuai EYD.

Tapi yang namanya bahasa hanya akan berlaku bila 2 pihak yang menggunakannya untuk berkomunikasi memiliki arti untuk setiap kata/kalimat yang sama. Baik pengucap dan pendengar harus memiliki makna yang sama. Untuk itu perlu disepakati aturan yang berlaku, walau untuk bahasa gaul ini aturannya lentur, dapat berubah2 tergantung waktu, dan kelompok atau orang yg menggunakannya. Kalo untuk bahasa Indonesia Resmi (sesuai EYD), bisa merujuk ke KBBI, walau sekarang beberapa bahasa gaul sudah masuk ke dalam KBBI. contohnya seperti kata “bencong”

<— Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (2001) —>
[bencong]
ben.cong
[a cak] banci